Lord give me the strength
To make it through another day.
To make the right decisions,
And see the light to guide my way.
Lord give me the wisdom,
To make the right choices.
To hear sound advice,
And hear gentlest of voices.
Lord give me the love,
That holds me safe and warm.
To walk a thousand miles,
And give me shelter from the worst storms.
Lord give me the safety,
Of your wisdom, strength and love.
To be brave to live through each day,
With divine care from above.
Wasiat Hasan Al Banna
Saudaraku...
Janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukan akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah impian kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan hari esok. waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian
masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidupnya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat.
"Sungguh, dalam semua ini terdapat pesan bagi mereka yang dapat membaca tanda-tanda," (Q.S. Al-Hijr [15]: 75).
"SELAMAT TAHUN BARU 2012" Bagi Umat Islam, sejenak merenungi diri untuk mengubah kondisi kearah yang lebih baik adalah misi suci tiada henti. Disini, di bumi ini, tugas kita adalah pesan suci langit kepada manusi. Menyampaikan keluhuran, kesucian, dan kedamaian hingga terasa nyata oleh seluruhalam semesta. Itulah mengapa Islam memegang teguh prinsip "rahmatan lil alamin". Transformasi diri dalam perspektif Islam tidak hanya di lakukan pada saat-saat tertentu, tetapi sepanjang hayat di kandung badan. Dalam bahasa lain, seumur hidup, perubahan ke arah yang lebih baik harus memenuhi visi dan misi hidupnya. Tujuan akhir (ultimate goal) Umat Islam adlah terus bekerja keras, demi menggapai kasih sayang (al-ridha) Allah, pencipta kehidupan ini.
Begitu juga ketika DIA (Allah) menciptakan waktu. Itu adalah wujud dari kasih sayang-Nya kepada umat manusia. Dengan perputaran waktu, setiap manusia yang sadar mampu menghargai pemberian-Nya. Salah satunya keberkahan usia. Tahun kemarin, tanggal di kalender adalah tanggal yang berada di tahun 1432 H. Sekarang, tahun itu berubah menjadi 1433H. Begitu pun dengan tahun masehi, sekarang berganti tahun menjadi 2012. Lantas, Sudahkah kita bertafakur?
Tafakur, adalah istilah arab untuk menyebutkan aktivitas berpikir. Di dalamnya, ujar pakar linguistik, ada upaya reflektif, kontemplasi yang hati-hati dan sistematik. Tafakur juga bisa dapat menjembatani pandangan hidup manusia, bahwa ada yang di sebut dunia dan akhirat, bahkan ada mahluk dan pencipta. Tafakur di sebutkan Al-qur'an sebanyak 18 kali yang di gunakan sebagai "kata kerja" ketimbang "kata benda". Artinya, menunjukan bahwa tafakurmerupakan suatu proses, bukan hanya konsepsi abstrak.
Jamal bahi dan Mustapha Tajdin, dalam buku Islamic creative Thinking (Mizania, 2008: 17-20), menurut istilah lain dari tafakur. 1) Nazhar, yakni memperhitungkan, memerhatikan, dan memikirkan; 2) Tabashshur, yang berarti memahami; 3) Tadabbur, yaitu merenungkan; 4) Tafaqquh, berarti memahami sepenuhnya, menangkap makna, dan sungguh-sungguh mengerti; 5) Tadzakur, ialah mencamkan dalam pikiran atau hati; 6) I'tibar, di artikan belajar, mengambil atu memetik pelajaran dari sejarah, pengalaman, dengan maksud agar tidak mengulangi kesalahan; 7) Ta'akul, adalah menggunakan pikiran dengan benar; 8) Tawassun, merupakan aktivitas membaca tanda-tanda tersirat.
Dari beragamnya sinonim tafakur dalam Alqur'an, satu yang harus kita garis bawahi, yakni menggunakan akal dan pikiran untuk merenung, berefleksi, dan berpikir tentang bangsa adalah inti dari penciptaan waktu oleh-Nya. Sebagai sang pencipta, Allah SWT, mewajibkan kita untuk mengisi waktu sebaik mungkin. Pergantian tahun, bukan berarti kita harus melupakan tahun-tahun yang lalu. Namun, terus tenggelam pada masa lalu pun tidak akan mengubah apa-apa, kecuali kekecewaan. Oleh karena itu, dalam Islam, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, bukan lantas meratapi apa yang telah di perbuat pada tahun yang lalu.
Detik-detik Pergantian tahun ini adalah awal yang baik untuk bertafakur tentang kondisi bangsa, negara, agama, dan laku lampah pribadi kita. Orang yang dapat membaca dan menangkap tanda-tanda yang di berikan-Nya, adalah individu yang dapat mengubah dirinya kearah yang lebih baik. Tentunya dengan memanfaatkan potensi akal dan hati yang di anugerahkan-Nya kepada seluruh umat manusia. Kesejatian muslim dan muslimah akan terwujud seandainya kita mengetahui segala kesalahan di masa lalu, dan berupaya mengubahnya menjadi lebih baik. Dalam hal ini, Tafakur bisa berarti upaya intelektual untuk mengubah diri, masyarakat, bahkan Dunia. Tetapi, jangan melupakan bahwa di samping bertafakur, kita juga mesti memanjatkan do'a kepada-Nya.
Ali Syari'ati berpandangan, tanda dari kehausan dan kasmarannya hati untuk melakukan mikraj keabadian. Pendakian ke puncak kesuksesan yang mutlak, dan perjalanan memanjat dinding keluar dari batas alam fisik (mundus sensibilis). Artinya, do'a adalah sarana perlawanan terakhir; di saat semua potensi perlawanan yang lain telah di babat habis. Do'a adalah raison d'etre kebadian spirit manusia untuk keluar dari ancaman bencana kepunahan. Pada zaman Salafushalihin, masyarakat kota basrah, Irak, kedatangan ulama shaleh, Ibrahim bin Adham. Waktu itu, warga kota Basrah sedang menghadapi kemelut sosial yang tak kunjung reda. Melihat ulama besar kharismatik yang langka itu, mereka tidak menyia-nyiakannya untuk bertanya. "Wahai abu Ishak, Allah berfirman dalam Alqur'an agar kami berdo'a. Kami sudah bertahun-tahun berdo'a, tapi kenapa tidak di kabulkan?" tanya mereka.
Ibrahim bin Adham menjawab, "wahai penduduk Basrah, hati kalian mati dalam beberapa perkara, bagaimana mungkin do'a kalian akan di kabulkan. Kalian mengakui kekuasaan Allah, tapi tidak memenuhi hah-hak-Nya. Membaca Alqur'an, tapi tidak mengamalkannya. Mengakui cinta keada Rasul, tapi meninggalkan sunahnya. Membaca taawudz, berlindung kepada Allah dari setan yang di sebut musuh, tetapi setiap hari memberi makan setan dan mengikuti langkahnya". Terakhir, ia mengatakan, "Wahai penduduk Basrah, ingatlah sabda Nabi. Berdo'alah kepada Allah, tetapi kalian harus yakin akan di kabulkan. Hanya saja kalian harus tau bahwa Allah tidak berkenan mengabulkan do'a dari hati yang lalai dan main-main".***
Penulis, editor lepas DAR!Mizan, serta alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung.
Bayangkanlah bila suatu ketika tetangga kita mengirim makanan, lalu kita menyambutnya dengan acuh tak acuh. Kemudian tanpa ucapan terima kasih kita kembalikan tempat makanannya itu masih dalam keadaan kotor. Apakah mungkin di lain waktu ia akan mengirim makanan lagi kepada kita?
Sekarang bayangkan pula bila kita menerima makanan kirimannya itu dengan lemah lembut sambil memuji-muji kebaikan hatinya. Lalu kita kembalikan tempat makanannya dalam keadaan bersih sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih. Apakah mungkin ia akan mengirim makanan lagi di kemudian hari? Mungkin kita berani mengatakan ya. Seandainya kemudian kita juga memberikan kue atau sesuatu sebagai rasa terimakasih, apakah tetangga kita kapok untuk mengantar makanan lagi dikemudian hari ? apakah dia akan menilai kita sebagai orang yang nggak tahu terima kasih ? ataukah kemungkinan ia akan mengirim makanan lagi akan bertambah besar ?
Contoh lain, bila kita diberi dasi oleh kawan kita yang baru pulang dari luar negeri kemudian dihadapannya dasi itu kita gunakan untuk mengelap ingus anak kita yang sedang pilek, bagaimana kira-kira perasaannya ? apakah mungkin kawan kita itu akan memberi oleh-oleh lagi bila ia pulang dari luar negri ?
Ilustrasi di atas sebenarnya hendak memberi gambaran tentang makna bersyukur. Al Qur’an tegas-tegas mengatakan bila kita bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah, maka Allah pasti akan menambahkan nikmat-Nya kepada kita (la in syakartum la aziidannakum wa lain kafartum inna ’adzaabi la syadiid); jika kamu bersyukur atas nikmat yang Ku-berikan kepadamu, maka akan Aku tambah nikmat itu, tapi jika kamu mengingkarinya (tidak mau bersyukur), maka ingatlah bahwa siksa-Ku sangatlah pedih).
Kita dikatakan bersyukur bila kita berusaha membuat senang yang memberi sesuatu kepada kita dan menggunakan pemberian tersebut pada tempatnya. Kalau kita diberi mata, maka kita gunakan mata tersebut untuk melihat yang baik, kalau kita diberi lidah, kita gunakan lidah tersebut untuk mengucapkan yang baik. Kalau kita diberikan harta, maka kita gunakan harta tersebut untuk hal-hal yang baik. Kita harus menyadari bahwa pemberian tersebut sangat besar nilainya, karena itu kita harus mensyukurinya. Kalau kita tidak pandai bersyukur, setidak-tidaknya janganlah menggunakan nikmat Allah tersebut untuk hal-hal yang tidak disukai-Nya. Maukah oleh-oleh dasi yang kita berikan ke teman kita digunakan untuk mengelap ingus anaknya ?
Dengan demikian, bila kita menerima rezeki kemudian sebagian rezeki itu kita berikan ke fakir miskin, maka niscaya Allah akan memberikan tambahan rezeki lagi. Dan sebaliknya bila kita menerima rezeki kemudian kita gunakan untuk foya-foya atau untuk berbuat hal-hal yang tidak disukai~Nya, maka niscaya Dia tidak akan memberi tambahan rezeki lagi, bahkan tidak mustahil akan mencabut semua rezeki yang sudah kita terima.
Jadi semuanya berpulang kepada diri kita sendiri, ingin bertambah atau berkurang?.
Siang ini February 6, 2008, tanpa sengaja ,saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi, dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima kasih Oom!”. Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.
Kaki – kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.
Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.
“Terima kasih ya mbak semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.
“Maaf, nggak ada kembaliannya..ada uang pas nggak mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
“Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.
“Nggak punya, tukas saya !” lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik !” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.
Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, nggak apa.. apa ambil saja !”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!” Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya.
Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu di genggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar” Om, bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek!”.
“eeh nggak usah..nggak usah..biar aja..nih!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.
Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya,” Nanti dulu Om, biar ditukar dulu..sebentar”.
“Nggak apa apa, itu buat kalian ” Lanjut saya.
“Jangan..jangan Om, itu uang om sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras.
” Sudah..saya Ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas!” saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.
“Ini deh om, kalau kelamaan, maaf..” ia memberi saya delapan pack tissue
“Buat apa ?” saya terbengong
“Habis teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu” walau dikembalikan ia tetap menolak.
Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.
“Terima kasih Om, !”..mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan ” Duit mbak tadi gimana..? ” suara kecil yang lain menyahut “Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…” percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.
Tuhan..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.
Suatu ketika, Muadz bin Jabal Ra. menghadap Rasulullah saw dan bertanya: “Wahai Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah SWT:
“Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris.” (QS An-Naba’:18)
Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab: “Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris.” Maka dinyatakan apakah 12 barisan tersebut…..
Barisan Pertama Digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: “Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kedua Digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Yang Maha Pengasih: “Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan sholat,maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Ketiga Mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking. “Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Keempat Digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran keluar dari mulut mereka. “Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual beli, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kelima Digiring dari kubur dengan bau busuk dari bangkai. Ketika itu Allah SWT menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar. “Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula merasa takut kepada Allah SWT, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Keenam Digiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. “Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Ketujuh Digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. “Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kedelapan Digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. “Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kesembilan Digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. “Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kesepuluh Digiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit sopak dan kusta. “Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kesebelas Digiring dari kubur mereka dengan berkeadaan buta mata-kepala, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran. “Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Barisan Kedua Belas Mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirat seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan: “Mereka adalah orang yang beramal saleh dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara sholat lima waktu,ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat ampunan, kasih sayang dan keredhaan Allah Yang Maha Pengasih…”
***
Wallahu A`lam
Semoga kita semua di izinkan oleh-Nya untuk ikut berbaris disaf Ke-12 yang mendapat rahmat dari Allah SWT. Amin…
Ada beberapa prinsip yang perlu dipahami ketika kita berada dalam posisi sebagai pemberi nasehat. Pertama, hal penting yang perlu diperhatikan dalam menasehati saudara kita adalah masalah niat. Sampaikanlah nasehat semata-mata karena Allah, bukan karena tujuan keduniawian atau nafsu dan hasrat pribadi. Dengan begitu, kita tidak perlu berkecil hati bila nasehat kita tidak diterima dengan baik. Anggaplah respon negatif tersebut sebagai ujian kesabaran. Pengalaman mengajarkan, orang-orang yang kecewa –sekalipun karena nasehat yang terbuka dan korektif- pada waktunya akan menghargai dan berterimakasih dalam hati mereka. Mengapa berkecil hati, bukankah nasehat itu ibarat pohon kebaikan yang kita tanam dan kita tidak tahu kapan akan tumbuh dan berbuah (QS. Al-A’raf:164).
Kedua, agar sebuah nasehat efektif, tunjukkanlah cinta, kasih sayang dan keikhlasan saat memberi nasehat. Hindari nada bicara yang menunjukan kebanggaan, celaan, olok-olok atau cemoohan. (QS. Al-Hujurat:11)
Ketiga, masalah pemilihan waktu yang tepat, perlu juga diperhatikan. Akhlak Islam menuntut kita menyampaikan nasehat secara pribadi, bukan di depan khalayak ramai, untuk menghindari timbulnya perasaan yang tidak baik. Tujuan nasehat adalah memperbaiki kelemahan dan menyempurnakan kekurangan seseorang, bukan mengumumkan dan mensosialisasikan kesalahannya.
Keempat, bersabar dan berhati-hati dalam menggunakan perkataan dan memilih suasana emosi yang tepat. Kita tidak boleh tersinggung atau kecewa jika nasehat kita tidak berpengaruh bagi orang lain. Mungkin semua itu membutuhkan waktu.
Kelima, jauhi pertentangan yang sia-sia. Adakalanya, pendapat kita salah dan pendapat orang yang kita beri nasehat itu benar. Dalam situasi ini, ubahlah tindakan memberi nasehat menjadi ajang bertukar pikiran dengan penuh persaudaraan. Ingatlah, tanggung jawab kita hanyalah memberi nasehat, bukan hidayah. Sebuah nasehat tak akan bermanfaat kecuali hanya dengan izin-Nya dan bergantung pula pada kadar keimanan penerima nasehat. Allah Swt berfirman, ”dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)
Keenam, jadilah cermin yang detil dengan memberi informasi yang lebih spesifik. Misalnya nasehat tentang kebersihan masih bersifat global dan umum. Agar saudara kita menyadari masalahnya, sebutkan hal yang spesifik, misalnya nafas yang kurang sedap atau pakai yang kumal.
Dalam manajemen nasehat diperlukan kepekaan dan kearifan yang tinggi agar mencapai hasil optimal (QS. An-Nahl:125). Presiden Lincoln, lebih dari seratus tahun yang lalu, berkata, ”Orang lebih mudah menangkap lalat dengan sirop daripada dengan cuka.” Sesungguhnya ajaran Islam telah lebih dulu menganjurkan umatnya agar ‘menangkap orang’ dengan keramah-tamahan yang manis, bukan dengan gertakan-gertakan yang kecut, sekalipun terhadap anak dan orang kesayangan yang paling dekat. Ini misteri hati yang sangat lemah dan rapuh dalam menghadapi kelembutan.
Allah Swt membekali Nabi Muhammad Saw dengan sifat kelembutan untuk berdakwah menghadapi umatnya (QS. Ali-Imran: 159). Itulah sebabnya dalam beberapa kisah, seringkali orang-orang yang diberikan nasehat oleh Nabi Saw meresponnya sambil mengungkapkan perasaan bahwa orang itu mencintai nabi. Sungguh ini bukan sekedar buah dari nasehat yang berlogika tajam dan cerdas, melainkan nasehat itu bersandar pada sifat kelemah-lembutan yang bisa langsung menyentuh dasar hati penerima nasehat.
Pelajaran ini, insya Allah membuka mata dan kesadaran kita akan dampak dari pemberian nasehat berbobot yang disampaikan dengan penuh kelembutan. Bila hal ini dilakukan secara berkelanjutan dan berulang-ulang, tanpa disadari, diantara pemberi dan penerima nasehat, akan tumbuh jalinan ikatan kasih sayang maupun persaudaraan yang semakin kuat.
Sejauh ini, bila interaksi nasehat menasehati terjadi diantara sesama laki-laki, maupun sesama wanita, dampak dari sikap lembut dan ramah selalu bernilai positif. Akan tetapi, fakta lapangan seringkali menunjukkan hal yang ’negatif’ bila aktifitas saling menasehati terjadi antara seorang laki-laki dan seorang wanita. Kedekatan yang berawal dari motivasi yang ikhlas perlahan-lahan terkontaminasi oleh rasa ketertarikan yang berhembus dari nafsu dan hasrat pribadi. Nasehat yang mulanya mengalir tulus tanpa mengharapkan sesuatu kecuali ingin memperbaiki kekurangan saudaranya, sedikit demi sedikit bergeser menjadi pengharapan akan penerimaan yang lebih dalam. Perhatian yang berlebihan (dalam konotasi negatif) dan rasa ingin selalu dekat selalu bercampur dengan semangat keikhlasan saat ingin memberikan nasehat. Ketergantungan seketika tercipta, seolah-olah hanya sang penasehat yang mampu menasehati dirinya. Lebih jauh lagi, pengakuan verbal sebagai satu-satunya penasehat spiritual acapkali mendorong keinginan untuk memberikan ’wewenang’ tambahan kepada sang penasehat agar mau berperan lebih yaitu sebagai penasehat pribadi dalam rumah tangga.
Kita tidak hendak membahas pro dan kontra dari akibat aktifitas saling menasehati antara lawan jenis, kecuali sekedar menunjukkan benang merah hubungan sebab akibat antara sikap lembut dalam menasehati dan hasrat ketertarikan dari dorongan nafsu manusiawi. Satu hal yang perlu dicermati adalah bahwa kita membutuhkan persiapan dan kewaspadaan ekstra di dalam hati ketika memutuskan untuk terjun dalam wilayah saling menasehati kepada seseorang (dakwah fardiyah) yang berbeda jenis dengan kita. Tanpa kematangan dan kekokohan spiritual yang mantab, sebaiknya urungkan niat anda untuk masuk terlalu dalam ke wilayah ini. Yang pasti, syetan selalu mengintai dan berupaya mencari celah-celah kelalaian dan kelengahan dalam semua aktifitas amal sholeh yang dilakukan oleh setiap hamba Allah. Semoga Allah Swt selalu melindungi kita semua dari godaan syetan yang terkutuk. Wallahu’alam bishawab.
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu 'ala Rosulillah wa 'ala aalihi wa shohbihi ajma'in.
Dalam tulisan kali kami akan memberikan pembahasan mengenai amalan-amalan istimewa di hari Jum'at yang penuh berkah yang bisa dimanfaatkan oleh setiap muslim sebagai tabungan pahala baginya di hari kiamat yang hanya bermanfaat amalan.
Pertama: Terlarang mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat dan siang harinya dengan berpuasa
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat tertentu dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dengan berpuasa kecuali jika berpapasan dengan puasa yang mesti dikerjakan ketika itu.”[1]
An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini menunjukkan dalil yang tegas dari pendapat mayoritas ulama Syafi’iyah dan yang sependapat dengan mereka mengenai dimakruhkannya mengerjakan puasa secara bersendirian pada hari Jum’at. Hal ini dikecualikan jika puasa tersebut adalah puasa yang berpapasan dengan kebiasaannya (seperti berpapasan dengan puasa Daud, puasa Arofah atau puasa sunnah lainnya, pen), ia berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya, berpapasan dengan puasa nadzarnya seperti ia bernadzar meminta kesembuhan dari penyakitnya. Maka pengecualian puasa ini tidak mengapa jika bertepatan dengan hari Jum’at dengan alasan hadits ini.”[2]
Kedua: Ketika shalat Shubuh di hari Jum’at dianjurkan membaca Surat As Sajdah dan Surat Al Insan
Sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Hurairah, beliau berkata,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca pada shalat Shubuh di hari Jum’at “Alam Tanzil ...” (surat As Sajdah) pada raka’at pertama dan “Hal ataa ‘alal insaani hiinum minad dahri lam yakun syai-am madzkuro” (surat Al Insan) pada raka’at kedua.”[3]
Catatan: Maksud membaca surat As Sajdah adalah membaca suratnya bukan memaksudkan untuk mengkhususkan ketika itu dengan surat yang ada ayat sajdahnya sebagaimana hal ini disalahpahami oleh sebagian orang. Sehingga tidak perlu mencari surat-surat lain yang terdapat ayat sajdah dan dibaca ketika Shalat Shubuh pada hari Jum’at. Ini sungguh salah dalam memahami hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cukup perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berikut sebagai nasehat,
“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”[4]
Ketiga: Memperbanyak shalawat Nabi di hari Jum’at
Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.”[5]
Keempat: Dianjurkan membaca Surat Al Kahfi
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, maka ia akan disinari oleh cahaya di antara dua jum’at”[6]. Dalam lafazh lainnya dikatakan,
“Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, maka ia akan mendapat cahaya antara dirinya dan rumah yang mulia (Mekkah).”[7]
Juga dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa membaca surat Al Kahfi sebagaimana diturunkan, maka ia akan mendapatkan cahaya dari tempat ia berdiri hingga Mekkah. Barangsiapa membaca 10 akhir ayatnya, kemudian keluar Dajjal, maka ia tidak akan dikuasai. Barangsiapa yang berwudhu, lalu ia ucapkan: Subhanakallahumma wa bi hamdika laa ilaha illa anta, astagh-firuka wa atuubu ilaik (Maha suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku senantiasa memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), maka akan dicatat baginya dikertas dan dicetak sehingga tidak akan luntur hingga hari kiamat.”[8]
Dari hadits-hadits di atas menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al Kahfi, bisa dilakukan pada malam Jum’at atau siang hari di hari Jum’at.
Kelima: Memperbanyak do’a di hari Jum’at
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membicarakan mengenai hari Jum’at lalu ia bersabda,
“Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut.[9]
Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari ketika menjelaskan hadits ini beliau menyebutkan 42 pendapat ulama tentang waktu yang dimaksud. Namun secara umum terdapat 4 pendapat yang kuat.
Pendapat pertama, yaitu waktu sejak imam naik mimbar sampai selesai shalat Jum'at, berdasarkan hadits:
“Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum'at selesai”[10]. Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, An Nawawi, Al Qurthubi, Ibnul Arabi dan Al Baihaqi.
Pendapat kedua, yaitu setelah ashar sampai terbenamnya matahari. Berdasarkan hadits:
“Dalam 12 jam hari Jum'at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar”[11]. Pendapat ini dipilih oleh At Tirmidzi, dan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Pendapat ini yang lebih masyhur dikalangan para ulama.
Pendapat ketiga, yaitu setelah ashar, namun diakhir-akhir hari Jum'at. Pendapat ini didasari oleh riwayat dari Abi Salamah. Ishaq bin Rahawaih, At Thurthusi, Ibnul Zamlakani menguatkan pendapat ini.
Pendapat keempat, yang juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar sendiri, yaitu menggabungkan semua pendapat yang ada. Ibnu 'Abdil Barr berkata: “Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan”.
Dengan demikian seseorang akan lebih memperbanyak doanya di hari Jum'at tidak pada beberapa waktu tertentu saja. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu 'Abdil Barr.[12]
Allah is calling But I didn't answer And when Allah is calling I just listen to the voices
Allah is calling I just answer sometimes And when Allah is calling I just listen to the whispers
Allah is calling I answer so many times Allah is calling I'm tired of them
Hardly forching myself I have to accept it all And that is really me Who's still not close to Allah
Apa yang telah hilang ?
Apa-apa yang hilang dari diri kita, kadang terjadi karena tindakan kita. Sebagian yang lain mungkin bukan. Maka, menengok apa yang hilang dari kita sangatlah penting. Tetapi lebih penting lagi mengerti bagaimana kehilangan itu terjadi, lalu dengan pengertian itu pula kita mengetahui apa pengaruhnya bagi jati diri kita.
Banyak yang harus kita cermati, apa saja yang mungkin hilang dari diri kita. Tetapi hal-hal berikut, barangkali layak diperhatikan, sekadar sebagai sudut pandang yang mungkin bisa memetakan, di mana dan hendak kemanakah kita melangkah, di tengah persimpangan jalan-jalan yang telah melenyapkan dan menghilangkan banyak hal, dari banyak orang.
1. Kehilangan Gairah dan Semangat penghambaan Ini mungkin sangat klasik. Tapi, mari sejenak berbicara tentang iman. Sebuah kendaraan yang dengannya kita berharap bisa sampai ke tujuan hidup yang sesungguhnya. Tujuan akhir dari penciptaan diri kita: menghamba kepada Allah. Lalu mengharap ridha-Nya, memohon surga-Nya, dan meminta dijauhkan dari neraka-Nya.
Gairah penghambaan. Itu istilah yang bisa kita pakai untuk menggambarkan kondisi keimanan kita. Kuat atau lemahnya, tinggi atau rendahnya. Iman, memang naik dan turun. Maka semangat kita untuk menghayati seluruh warna-warni kehidupan ini – sebagai apapun kita – dalam frame dan bingkai iman, kadang juga turut naik atau turun. Itu sangat bisa terjadi pada diri kita, juga pada diri siapapun.
Bila begitu kenyataannya, pasti, selalu akan ada yang terasa hilang dari gairah penghambaan itu, pada jenak-jenak ketika iman itu sedang turun. Dunia yang penuh gemerlap, bisa saja menyeret kita menjadi orang-orang yang lupa akan tujuan akhir hidup ini. Naudzubillah. Karenanya, Abu Darda’ berkata, "Sesungguhnya di antara tanda kepahaman seorang hamba, adalah menjaga imannya dari hal-hal yang bisa menguranginya. Serta memahami, apakah sedang bertambah atau berkurang imannya.”
Kehilangan jenis ini, sejujurnya harus dipahami sebagai kehilangan yang paling besar. Sebab apalah artinya hidup bila tidak ada lagi tujuan mengharap ridha Allah SWT. Dalam bentuk beribadah kepada Allah, mungkin semangat kita melakukan ibadah-ibadah tidak lagi sekuat dahulu. Shalat sunnah misalnya, puasa sunnah, misalnya, membaca Al-Qur’an, misalnya. Atau dalam bentuk keyakinan, mungkin tiba-tiba kita seperti anak kemarin sore yang masih belajar mengenal Tuhannya. Seperti-nya kita begitu asing dengan eksistensi Allah, tentang makna kematian, alam kubur, hari kiamat, surga, neraka. Sepertinya pikiran-pikiran tentang itu hilang dari rasionalitas kita. Tiba-tiba hati kita begitu kering kerontang. Seperti kemarau panjang yang panas menusuk tulang-tulang.
Mengukur sejauh mana kita kehilangan gairah penghambaan, itulah peta yang harus kita pegang. Tidak semua orang bisa memiliki iman yang tinggi, Tetapi ada batas minimal yang tidak boleh dilewati. Suatu hari, Ibnu Taimiyah ditanya, “Dengan apakah seseorang menguatkan imannya hingga menjadi sempurna, Apakah dengan meninggalkan larangan Allah, atau dengan ilmu, atau dengan beribadah?"
Ibnu Taimiyah menjawab, “Ia harus mengambil batas wajibnya dari keimanan, batas wajibnya dari ibadah, dan batas wajibnya dari meninggalkan larangan Allah. Sesudah itu, manusia bertingkat-tingkat, sesuai cabang-cabang yang ada dalam keimanan dan sesuai dengan jerih payahnya yang berbeda-beda.”
Bila malam mulai larut. Saat sunyi mulai memagut. Cobalah bertanya, adakah yang hilang dari gairah penghambaan kita?
2. Kehilangan ‘Keaslian’ dan Kejujuran Kita Sejujurnya, pada lubuk sanubari kita yang paling dalam, ada suara hati yang tak pernah berdusta. Ia akan berkata apa ada-nya, tentang baik buruk langkah kaki kita. Itulah kejujuran kita, kepolosan kita. Dan bahkan itulah ‘keaslian’ kita. Tetapi beban hidup yang menggerus-gerus, seringkali menghilangkan keaslian itu. Diri kita yang asli, semestinya adalah diri kita yang berjalan di garis fitrah kemanusiaan kita.
Dalam konteks sosial, keaslian kita adalah kenyataan bahwa kita hanyalah manusia biasa. Meski mungkin tiba-tiba kita menjadi kaya-raya, misalnya, setelah sebelurnnya miskin dan tidak punya apa-apa. Sebab sejujurnya, kekayaan itu akan memberi bobot yang berbeda tentang kita bukan pada bagian yang kita makan dan kita nikmati, tetapi pada bagian dimana harta itu menjadikan fungsi sosial kita punya wilayah manfaat yang lebih luas.
Dalam wilayah politik dan kekuasaan, misalnya, keaslian kita adalah kenyataan bahwa kita hanya manusia biasa. Meski tiba-tiba kita menjadi wakil rakyat, menteri, atau pejabat apa saja, padahal sebelumnya kita hanya rakyat biasa. Tetapi alangkah banyak orang yang kehilangan keaslian, pada wilayah sosial ini. Seperti kisah para pemain bola di negeri ini yang terseret narkoba, karena kaget dengan gaji yang begitu besar. Atau para politisi sebagaian partai, yang dengan ilmu pas-pasan tiba-tiba punya otoritas politik dan kekuasaan yang besar. Begitupun dalam cabang-cabang wilayah sosial yang lain. Soal ras, suku, darah biru atau darah merah, pangkat, jabatan, gelar, itu bisa menjadikan orang kehilangan ‘keaslian’nya .
Mari berkaca pada Umar bin Abdul Aziz, sang khalifah. Suatu hari, Roja’ bin Haiwah bermalam di tempatnya. Tiba-tiba lentera mati. Roja’ pun berdiri hendak membetulkannya. Tetapi sang khalifah melarangnya. Umar pun membetulkan sumbu lampu itu. Lalu ia berkata kepada Roja’, “Aku berdiri (membetulkan lampu) dan aku Umar bin Abdul Aziz. Lalu aku duduk, dan aku juga Umar bin Abdul Aziz." Ia ingin menjelaskan dengan bahasa lain, bahwa sejatinya dirinya hanya seorang Umar, meski ia seorang khalifah, pemimpin tertinggi. Tidak aib baginya membetulkan lampu yang penuh dengan kotoran. Inilah makna nyata dari ‘keaslian’, kejujuran, dan kepolosan yang kita maksud. Sesuatu yang mungkin telah hilang dari sebagian kita. Padahal, kita tidak dan tidak akan mencapai derajat yang dicapai Umar bin Abdul Aziz.
Karenanya, untuk orang-orang yang sombong, yang kehilangan keaslian, Al-Qur’an menggunakan bahasa yang sangat keras dan ‘kasar’: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." (Qs. Al-Isra’: 37).
Bila ada sedikit waktu untuk menyendiri, tanpa pakaian kebesaran, duduklah di kursi kayu yang bukan kursi kekuasaan, sejenak. Lalu bertanyalah, adakah yang hilang dari ‘keaslian’ dan kepolosan kita?
3. Kehilangan Hal-Hal yang diluar Kemampuan Kita Untuk Menahannya Agar Tidak Hilang Kehilangan model ini, sesungguhnya tak lebih merupakan bagian dari takdir-takdir hidup yang harus kita jalani. Kehilangan orang-orang yang kita cintai, ayah, ibu, anak, saudara, atau sahabat dan karib kerabat.
Kita boleh mencintai siapa saja. Tetapi kita tidak akan bisa memilikinya selama-lamanya. Begitulah yang dirasakan Rasulullah SAW. Alangkah sedihnya kehilangan istri tercinta, Khadijah, radhiyallahu ‘anha. Ia meninggal hanya tiga bulan setelah sebelumnnya Abu Thalib juga meninggal dunia. Kehilangan Khadijah, tidak saja kehilangan istri tempat berlabuh dari lelah dan letih. Tidak saja kehilangan seorang perempuan mulia yang memberinya keturunan. Tetapi ia kehilangan orang yang memberikan seluruh jiwa dan raganya, hidup dan jerih payahnya, untuk menopang perjuangan Rasulullah SAW.
Kehilangan model ini, bila telah tiba, tidak akan bisa ditolak, dengan cara apapun. Seperti juga kehilangan sahabat atau kehilangan masa dan jaman tertentu. Itulah yang dirasakan para sahabat, yang usianya panjang hingga menemui jaman baru, menemukan penyimpangan-penyimpangan baru. Ada kehilangan mendalam akan sahabat-sahabat lama yang telah pergi terlebih dulu. Seperti yang dirasakan Anas bin Malik. Ia berkata kepada para tabiin. “Sesungguhnya, boleh jadi kalian melakuan sebuah kesalahan yang kalian anggap kecil dari sehelai rambut, tapi kami dahulu di masa Rasulullah menganggapnya sebagai dosa besar.”
Kematian sanak saudara, kekurangan harta, hilangnya rasa aman, itulah di antara hal-hal yang dirangkum Al-Qur’an tentang apa-apa yang mungkin hilang dari diri kita. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Qs. Al-Baqarah: 155).
Kehilangan jenis ini, tidak ada pilihan lain kecuali menghadapinya dengan kesabaran. Tetapi justru banyak yang gagal bertahan menghadapi kehilangan jenis ini. Hitunglah, sejenak saja. Berapa usia kita hari ini? Siapa yang telah pergi mendahului kita? Siapa yang telah berpisah dan tidak lagi bersama kita? Adakah kehilangan itu semua, telah begitu mengubah dan mengacaukan jalan hidup yang kita tempuh? Atau justru memberi kita semangat dan kekuatan baru?
4. Kehilangan Kesempatan dan Pilihan-Pilihan hidup Sebagian dari jalan hidup kita adalah pilihan dan kesempatan. Bahkan sebagiannya adalah selera. Dalam istilah yang lebih legal, Allah menjelaskannya, bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubah dirinya sendiri.
Karena satu dan lain hal, bisa jadi kita kehilangan sebuah kesempatan berharga. Sebuah kehilangan yang mungkin baru kita sadari beberapa waktu kemudian, setelah segalanya menjadi terlambat. Ini bisa terjadi dalam urusan apa saja. Dalam hal-hal yang sangat pribadi, bahkan, yang mungkin hanya kita – dan Allah – saja yang tahu. Termasuk dalam kategori ini adalah kehilangan keberanian untuk memilih pilihan yang tepat, atau meninggalkan pilihan yang keliru. Selalu ada sisi gelap seseorang dari masa lalunya, sesederhana apapun sisi gelap itu.
Kehilangan dalam bentuk ini, tidak boleh disikapi dengan cara yang salah. Dengan menyesalinya secara berlebihan misalnya. Atau berandai-andai yang membuat kita justru tenggelam dalam trauma masa lalu. Mengakibatkan hidup seperti berhenti dan harapan serasa mati. Sebaliknya, kehilangan model ini juga tidak pula boleh disikapi dengan acuh, atau justru dengan mengulangi lagi terus menerus kehilangan itu. Pilihan-pilihan yang salah itu bukannya ditinggalkan, justru malah diulang dan diulang. Seperti istilah Al-Qur’an, meniru seorang perempuan pemintal kain. “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali.” (Qs. An-Nahl: 92).
Sahal bin Abdullah berkata, “Sesungguhnya orang yang bodoh itu seperti mayit, orang yang lupa itu seperti orang tidur, orang yang bermaksiat itu seperti pemabuk, sedang orang yang terus menerus melakukan maksiat itulah orang yang binasa. Termasuk dalam arti terus menerus itu adalah mereka yang berkata ‘aku akan bertaubat besok.’ Bagaimana mungkin ia berani berkata besok, padahal hari esok tidak berada dalam kekuasaannya."
Kehilangan itu harus menjadi pemicu, agar kita tidak tergelincir pada lubang yang sama. Agar kita membayarnya dengan yang lebih baik. Dalam kumpulan kisah-kisah para mahasiswa Amerika yang masuk Islam, seperti yang diterbitkan Universty of South California-Muslim Students Association (USC-MS), ada banyak kisah tentang orang-orang yang merasa terlambat memilih pilihan tepat: masuk Islam. Itu artinya, ada kehilangan waktu dan kesempatan, untuk segera mengambil pilihan itu. Tetapi kebanyakan mereka kemudian, membayar kehilangan itu dengan memperbanyak amal, meningkatkan pemahaman dengan jerih payah sekuat tenaga. Karima Slack Razi, misalnya. Untuk sebuah pilihan itu, ia menghabiskan waktu tiga tahun. “Tiga tahun yang melelahkan, sekaligus mengagumkan,” begitu kenangnya. “Sejumlah kepercayaan muncul dan sejumlah lainnya runtuh. Pada saat takut aku seperti akan kehilangan diri, di saat lain aku tahu bahwa jalan ini adalah tujuanku dan dan peganganku.”
Begitulah. Selain empat hal di atas, mungkin ada dimensi-dimensi lain tentang arti sebuah kehilangan. Tetapi yang terpenting, bagaimana kemudian kita dengan tulus dan berbesar hati, bisa memetakan kehilangan-kehilangan itu untuk pijakan dan sikap yang akan kita ambil kemudian.
Bahwa roda jaman harus berputar. Bahwa hidup pasti pasang naik dan pasang surut. Tinggal bagaimana kita, secara berkala berani jujur bertanya, tentang apa yang telah hilang dari diri kita. Lalu sesudah itu, ia menjadi bagian terpenting kita, untuk belajar menjadi lebih baik dan lebih dewasa. Wallahu’alam
If you would like to monetize your blog or website, you could visit Ask2link to learn more. Ask2link is a search engine marketing company that specializes in selling text links and banner ads. Advertisers, you may want to think about spending your marketing budget beyond PPC(Pay-per-click) such as Yahoo Search Marketing, MSN AdCenter, or Google Adwords. Why?
Static HTML links can bring you targeted traffic, bring you more organic search traffic, and also potentially improve your search engine rankings (SERPs), and you could increase your website traffic or sales. It also has uses in search engine reputation management. Search engine reputation management companies also use various SEO techniques to fight negative publicity. Start advertising now in this website as part of your SEO or online marketing campaign. You could now purchase static text links or banner ads on my website by following on the links below:
And no matter whether you are SEO beginner, expert, SEO consultant, or search engine marketing company, you could also try Ask2Link as SEO tools as they are one of the companies that offer SEO services.
bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu ‘ala rasuli-lLah wa ‘ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, amma ba’d, assalamu ‘alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH,
“… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS 3: 134)
Saudaraku, ayat di atas menerangkan 3 tingkatan para wali:
Pertama, menahan amarahnya terhadap orang lain. Terkadang masih tersimpan dendam untuk membalas orang yang berbuat kesalahan terhadapnya.
Kedua, memaafkan kesalahan orang lain. Mengampuni kesalahan orang itu, tidak mencelanya, dan tidak ada dendam untuk membalas kejahatan orang itu.
Ketiga, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Memaafkan kesalahan orang itu, tidak ada dendam, mendoakan orang tersebut dan berbuat kebaikan.
Suatu hari, Khalifah Harun ar Rasyid sedang menjamu para undangan penting, di antaranya para menteri, gubernur, dan panglima perangnya. Tiba-tiba seorang budak yang bertugas membawa minuman menumpahkan kendi, dan basahlah baju sang khalifah. Dengan muka yang memerah sang khalifah menatap pelayan tersebut.
Pelayan yang cerdik itu berkata, “Wahai amirul mukminin, bukankah Allah berfirman, …dan orang-orang yang menahan amarahnya”.
Khalifah menjawab, “Aku telah menahan amarahku”.
Pelayan itu berkata lagi,”..dan mema`afkan (kesalahan) orang”.
Khalifah menjawab, “Aku telah mema’afkan kamu”.
Pelayan itu berkata lagi, “..dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.
Sang khalifah pun berkata, “Sekarang, aku memerdekakanmu karena Allah”.
======================== "Ya 4JJ1, jangan Engkau hukum hamba karena apa yang
mereka katakan tentang hamba,
berikanlah kebaikan pada hamba dari apa yang mereka sangkakan kepada hamba. Ampunilah hamba karena apa yang tidak mereka ketahui
tentang diri
hamba". ========================