 Blog For Free!
Archives
Home
2008 August
2008 July
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 February
2008 January
2007 December
2007 November
2007 October
2007 September
2007 August
2007 July
2006 October
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
My Links
KaiSan WallPaper
Naruto Shippuuden
tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images
Sponsored
Blog

Lord give me the strength
To make it through another day.
To make the right decisions,
And see the light to guide my way.
Lord give me the wisdom,
To make the right choices.
To hear sound advice,
And hear gentlest of voices.
Lord give me the love,
That holds me safe and warm.
To walk a thousand miles,
And give me shelter from the worst storms.
Lord give me the safety,
Of your wisdom, strength and love.
To be brave to live through each day,
With divine care from above.
Wasiat Hasan Al Banna
Saudaraku...
Janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukan akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah impian kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan hari esok. waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian
masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidupnya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat.

|
| Reformasi Cinta Ayah |
| 08.17.08 (8:32 pm) [edit] |
Sudah lama diyakini bahwa urusan si kecil di tangan ibu. Sedangkan Ayah adalah pencari nafkah. Kalau pun istri atau ibu bekerja, sesampai di rumah, yang utama adalah mengasuh anak-anak. Bila tiba saatnya membahas kesehatan anak dan membesarkannya, para ibu mendominasi diskusi.
Dalam dunia yang berubah cepat, hal itu tampaknya bergeser. Seperti dilansir situs Pysch Central, para ayah memainkan peran esensial tapi sering terabaikan dalam kesehatan dan perkembangan anaknya.
Terapis keluarga dari Massachusetts, Amerika Serikat, Marie Hartwell-Walker bicara soal peran para ayah. Hal itu tertuang dalam "Fathering in America: What's a Dad Supposed to Do" yang terbit pada 25 Juni lalu.
Saat ini, orang-orang Amerika makin bingung soal peran ayah dalam kehidupan anak-anak. Di satu sisi, banyak dan makin banyak ayah yang absen dari semua atau periode signifikan anaknya. Menurut Sensus 2006, 23 persen anak-anak di bawah 18 tahun tak hidup bersama ayah biologis mereka, dan angkanya merangkak naik.
Di sisi lain, cobalah telusuri kata "fatherhood" di Internet dan Anda akan dapatkan lusinan situs yang didedikasikan untuk mengajar, membimbing, dan menyokong para lelaki menjadi lebih mengasuh serta terlibat sebagai ayah.
Sementara itu, banyak komedi situasi di TV dan kartun yang mempertontonkan terus untuk melukiskan para bapak sebagai orang-orang tolol, atau paling banter orang baik tapi salah urus, terhadap anak-anak, sementara para istri mereka harus menjadi ibu yang sangat baik. Jika sesosok makhluk angkasa luar di galaksi lain ada dan masuk serial The Simpsons, Everyone Loves Raymond, Family Guy, dan lainnya, ia bakal datang dengan sebuah ide curang bagaimana fungsi lelaki dalam keluarga Amerika.
Terlepas dari naskah skenario yang berlebihan dari serial TV semacam itu, perlunya pemikiran kembali peran kalangan ayah dan tanggung jawab dalam konteks reformasi sosok mereka.
Mungkin kita harus memperbaiki bagaimana keluarga seharusnya didefinisikan. Kita mungkin bingung soal peran gender. Tapi kita harus berjuang bagaimana menjadi orang tua yang baik di zaman edan ini. Satu yang sudah jelas: anak-anak butuh ayah sebagaimana terhadap ibu mereka. PSYCH CENTRAL | DWI ARJANTO
Ayo Dong, Papa
Tanpa mengurangi kehadiran ayah dalam hidup anak-anaknya, tindakan yang aktif sepanjang tumbuhnya mereka baik buat semua, mereka bakal menjadi insan yang lebih sehat. Lalu bagaimana ide "keterlibatan ayah" diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari? Riset terbaru menunjukkan tip-tip berikut ini buat ayah yang bertanggung jawab.
*Pegang erat tanggung jawab. Sekali Anda menjadi seorang ayah, artinya ayah selamanya. Pengalaman kebapakan biasanya mengubah seorang pria. Bisa sebagai sumber kebanggaan dan kedewasaan atau sebaliknya, sumber kemunduran. Bersamaan dengan itu, banyak keuntungan hukum, psikologi, dan keuangan.
*Hadirlah. Dalam studi setelah berbagai penelitian, anak-anak secara konsisten bilang mereka sangat suka punya waktu lebih banyak dengan ayah mereka. Para bocah butuh waktu ayah mereka. Ikut ke kantor atau jalan-jalan bisa sangat berarti sebagai saat menyenangkan atau suatu "petualangan" . Anak-anak memang ingin tahu tentang ayah mereka. Lebih penting, mereka ingin ayah tahu mereka.
*Hadir sepanjang dunia mereka. Tak ada waktu dalam kehidupan anak-anak yang terbuang percuma. Riset menunjukkan banyak bayi tahu dan merespons ayah-ayah mereka secara berbeda dibanding terhadap sang bunda. Kedekatan Anda dengan seorang bayi akan membentuk fondasi sepanjang hidup. Selama pertumbuhan, dia ingin Anda dalam cara yang berbeda tapi akan selalu butuh Anda.
*Hargai dan jalin hubungan yang nyaman dengan istri. Ayah yang baik pastinya menjaga hubungan dengan baik di dalam ataupun di luar rumah. Sekalipun Anda dan ibu mereka bekerja, Anda bisa mendukung satu sama lain sebagai orang tua. Anak-anak tumbuh baik ketika orang tua saling menjaga dengan respek dan hormat. Berbagilah penghasilan. Mereka butuh model panutan pria yang bertanggung jawab.
*Seimbangkan disiplin dan kesenangan. Beberapa ayah membuat kesalahan dalam kedisplinan. Para bocah tumbuh dengan ketakutan terhadap ayah mereka dan tak bisa melihat pria melanggar aturan. Padahal mereka ingin punya ayah yang tahu dengan baik bagaimana membuat sesuatu masuk akal, batas-batas hukum, serta bagaimana relaks dan bersenang-senang. Bikinlah stabilitas dengan batas-batas yang jelas.
*Jadilah orang baik hati. Si buyung ataupun si upik membutuhkan Anda sebagai panutan untuk menjadi orang dewasa yang baik hati. Jangan selalu bikin kesalahan. Anak-anak selalu memperhatikan Anda setiap menit! Mereka meniru bagaimana Anda memperlakukan orang lain, menangani stres dan frustrasi, menaati peraturan, bahkan ketika Anda membawa diri dengan bermartabat. Beri mereka ide kebaikan (dan hubungan) yang dapat dibanggakan. PSYCH CENTRAL
sumber : koran digital
|
|
1 Comments
|
| |
| Bila Ibu Boleh Memilih.... |
| 08.17.08 (7:46 pm) [edit] |
Anakku... Bila ibu boleh memilih Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu Maka ibu akan memilih mengandungmu.. Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah Sembilan bulan nak,... engkau hidup di perut ibu Engkau ikut kemanapun ibu pergi Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan, Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman,karena ibu kecewa dan berurai air mata... Anakku,.. Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan. Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit, Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia Saat itulah... saat paling membahagiakan Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah, Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan, Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu Anakku,... Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu, Maka ibu memilih menyusuimu, Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu, Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan Anakku,... Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu Tetapi anakku... Hidup memang pilihan... Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana Maka maafkanlah nak... Maafkan ibu...Maafkan ibu... Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita, Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang Percayalah nak... Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu Percayalah nak... Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu...
Ratih Sanggarwati (Ratih Sang) Jakarta, 21 Agustus 2004
|
|
1 Comments
|
| |
| Biarlah orang-orang bicara tentang kita |
| 08.01.08 (1:09 am) [edit] |
|
Amal-amal kita, tidak hanya dicatat para malaikat. Karena cerita-cerita dan kesan yang kita tinggalkan di dunia setelah mati, serupa cermin nilai dari prilaku kita selama hidup. Alangkah indahnya, sebuah kematian yang bisa meninggalkan cerita-cerita baik pada keluarga. Alangkah bahagianya, sebuah kematian yang mengesankan jejak hidup yang menjadi pelajaran kebaikan bagi mereka yang masih menjalani hidup. Alangkah gembiranya, bila kematian kita menyisakan kesan dari amal-amal saleh yang bermanfaat untuk orang lain. Di akhirat kelak, tak ada sesuatu yang paling disesali penghuni surga kecuali penyesalan mereka terhadap waktu yang hilang di dunia tanpa diisi amal saleh. Karena itu, ketika ada seorang saleh ditanya, "Kenapa engkau melelahkan jiwamu dalam beribadah?" Ia menjawab, "Aku ingin mengistirahatkan jiwaku." Istirahat yang dimaksud, adalah istirahat di dunia dengan jiwa yang tenang setelah beribadah. Juga istirahat di akhirat, dengan memasuki kehidupan yang begitu menentramkan dan menggembirakan. Umur hidup itu, menurut Ibnul Jauzi rahimahullah, tak beda dengan tempat jual beli berbagai macam barang. Ada barang yang bagus dan juga yang jelek. Orang yang berakal, pasti akan membeli barang yang bermutu meski harganya mahal. Karena barang itu lebih awet dari barang jelek meski harganya murah. "Orang yang tahu kemuliaan alam semesta harus meraih sesuatu yang paling mulia yang ada di alam semesta ini. Dan sesuatu yang paling mahal nilainya di dunia ini adalah, mengenal Allah swt," kata lbnul Jauzi. Seseorang yang mengenal Allah swt, berarti ia mengetahui ke- Maha Besaran-Nya. Berarti juga mengetahui kekerdilan dirinya, kelemahan dirinya, ketergantungan dirinya dengan Yang Maha Berkuasa. Pengenalan seperti ini yang bisa memunculkan kekuatan dan ketangguhan dalam mengarungi gelombang kehidupan. Tidak takut, tidak lemah, dan tidak tergantung kepada siapa pun, kecuali Allah dan selama berada di jalan Allah tidak senang, tidak gembira dan tidak bersukacita kecuali bersama Allah. Lihatlah perkataan Masruq, seorang mufassir yang juga sahabat Said bin Jubair, yang pernah berujar, "Tak ada lagi yang lebih menyenangkan dari menempelkan wajahku di tanah (sujud). Aku tidak pemah bersedih karena sesuatu melebihi kesedihanku karena tidak bisa sujud kepada Allah." (SiyarA’lamin Nubala, IV/65). Sujud adalah saat-saat seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya. Sujud, juga tanda ketundukan dan kerendahan seorang hamba di hadapan Tuhannya. Sujud, juga merupakan kepasrahan, ketaatan, kerinduan dan kecintaan seorang hamba pada Tuhannya. Kondisi-kondisi seperti itulah yang sangat didambakan Masruq hingga tak ada lagi kesedihan baginya, kecuali ia tidak bisa melakukan sujud di hadapan Allah swt. Itulah gambaran keyakinan yang tertanam kuat dalam jiwa orang-orang saleh, para pejuang da’wah Islam. Ketundukan, kedekatan dan keyakinannya pada Allah, menjadikan tekad mereka seperti baja dan keberanian yang tak kenal takut. Basahnya lidah mereka oleh dzikir, larutnya hati mereka dalam kecintaan pada Allah, tunduknya jiwa mereka pada keagungan Allah, memunculkan kepribadian yang kuat dan tangguh. Setiap orang, pada mulanya, dinilai tinggi rendahnya berdasarkan intensitas dan kualitas serta konsistensi (istiqomah) dalam beribadah kepada Allah. Bukan dinilai dari kekayaan materi/harta yang dimilikinya ataupun oleh orang tua nya. Bukan pula dinilai dari paras, ketampanan dan keindahan fisiknya. Karena, semua itu hanya fatamorgana yang hanya sesaat bisa dinikmati. Pribadi yang kuat dan tangguh selalu muncul dari habitat kehidupan yang penuh tantangan, bukan dari keserbamudahan yang memanjakan dan melemahkan jiwa. Lihatlah, Bagaimana penuturan salah seorang anak dari Syaikh Ahmad Yasin rahimahullah, tokoh pejuang Palestina abad ini yang beberapa waktu lalu gugur oleh rudal Israel. "Ayah tidak mencintai dunia. Ia lebih mencintai rumah akhirat. Banyak orang yang menyarankan agar ayah mendiami rumah sebagaimana layaknya seorang pemimpin. Pemerintah otorita Palestina juga pernah menawarkan sebuah rumah yang besar di perkampungan Ghaza. Tapi ayah menolak tawaran itu. Ayahku lebih menginginkan akhirat sehingga ia tidak begitu memperhatikan perabotan duniawi. Luas rumahnya kecil, hanya tiga ruang. Tanpa keramik di lantai, dan ruang dapur yang sudah rusak. Bila musim dingin tiba, kondisi rumah sangat dingin. Sebaliknya bila musim panas datang, ruangan rumah terasa panas sekali. Ayah tidak pernah berpikir untuk memperbaiki rumahnya. Sekali lagi, ia benar-benar sibuk mempersiapkan rumahnya di akhirat." Itulah rahasia ketegaran Syaikh Ahmad Yasin. Rumah akhirat. Pernahkah terlintas dalam hati kita tentang rumah itu? Pernahkah kita berencana dan bermimpi memiliki rumah yang indah, di akhirat, bukan di dunia? Bagaimana kita membayangkan kesan akhir yang kita tinggalkan pada keluarga, setelah kita berpisah dengan mereka di dunia? Kebanggaankah atau kebalikannya? Apakah mereka juga akan berkata, kita lebih mencintai dan menginginkan rumah akhirat? Syaikh Ahmad Yasin memberi pelajaran besar bagi kita tentang keyakinannya pada keputusan Allah swt. Bahwa apa yang diputuskan oleh Allah tetap akan terjadi, apa pun usaha yang kita lakukan. Syaikh Ahmad Yasin juga memberi pendidikan langsung kepada siapa pun, tentang batas apa yang harus diberikan seseorang yang menginginkan mati di jalan Allah. Sekitar lima menit sebelum rudal Israel ditembakkan ke arahnya, Syaikh yang duduk di kursi roda itu, seorang anaknya, Abdul Ghani sempat mengingatkannya untuk berhati-hati dengan mengatakan, "Ayah, ada pesawat pembunuh di atas." Apa jawaban Syaikh Ahmad Yasin ketika itu. "Ya, saya di sini sedang menanti pesawat pembunuh itu juga." Benar-benar tak ada keraguan dan ketakutan sedikit pun. Kita di sini, sedang menanti detik demi detik kematian yang pasti menjemput. Menunggu saat kita menarik nafas terakhir, dan menghembuskannya lagi untuk yang terakhir. Saat udara dingin merayap dari ujung jemari kaki hingga bagian kepala. Saat mata terkatup dan tak bisa terbuka lagi. Ketika badan terbujur dan tak bisa bergerak. Ketika kita masuk dalam keranda, dan diangkat oleh anggota keluarga dan teman-teman kita. Setelah itu, Biarlah orang-orang berbicara tentang kita… Sumber Biarlah orang-orang bicara tentang kita
|
|
1 Comments
|
| |
| Bila akhirat menjauhi kita |
| 07.15.08 (11:19 pm) [edit] |
|
Akhirat. Kampung tempat segalanya berkesudahan. Mengakhiri jalan panjangnya. Rumah penghabisan, tempat segala hiruk pikuk dunia ditimbang, lalu ditunaikan hak orang-orang yang punya hak. Serta diambilkan bayaran kekurangan orang-orang yang berbuat curang. Nun di sana. Kita akan bersua. Seperti air sungai yang mengalir berliku, kesana pula bermuara pada akhirnya. Tetapi akhirat bukan sekadar tempat berkesudahan yang . terpaksa. Atau tempat pembuangan segala isi alam semesta. Ya, pada ketetapan Allah, taqdir dan kuasa-Nya, tak ada yang bisa lari dari akhirat. Tapi bagi orang-orang beriman akhirat adalah juga tempat menggantungkan cita-cita, harapan, dan puncak kebahagiaan abadi. Lain halnya bagi orang-orang yang bergelimang dosa, bergumul dengan syetan dan hawa nafsu, akhirat adalah tempat perhempasan yang menyakitkan. Seperti onggokan sampah yang tak kuasa terbawa arus. Melaju. Di sana pula sampah itu mengalir. Lalu terhenti seketika. Menebus segala kotorannya. Dengan cara yang sangat mengerikan. Ia mungkin dahulu mengatakan, seperti yang diabadikan Al-Qur’an, "Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. " (QS. Al-An’am: 29). Maka manusia sampah punya akhirannya sendiri di kampung akhirat sana. Akhiran sebagai sampah, atau bahkan lebih nista dari sampah. Suasananya sangat mengharukan. "Dan, jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang heriman,’ tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan." (Al-An’am: 27). Akhirat. Jauh dan dekatnya sangat tergantung pada cara kita mengejarnya. Lama dan sebentarnya tergantung bagaimana kita berjalan menuju ke sana. Sejatinya kita bertaruh untuk sesuatu yang sangat pasti. Akhirat yang sering terlupakan. Ia semestinya hadir di setiap jenak hidup kita, meski terasa asing dan tak tergambarkan. Ia dekat tapi sering dianggap jauh. Ia nyata, bilapun sering dirasa sebatas cerita. Seperti pemangsa bertaring, ia bisa menyergap tiba tiba, tapi betapa banyak orang yang tak pernah menyadarinya. Akhirat. Seperti sahabat sehati. Ia akan terus melambai, bila kita masih jujur padanya. Ia akan merindukan kita, bila kita juga merindukannya. Ia akan menyiapkan sambutan untuk kita, bila kita masih setia berjalan menuju kepadanya. Kesetiaan seorang Mukmin yang mencari cinta sejati: cinta yang menghidupkan dan memastikan harapan. Kesetiaan seorang Mukmin yang mengerti bahwa dunia hanya teman sementara, kawan yang menangkar mawar tapi juga durinya, madu tapi juga racunnya, manis tapi juga pahitnya. Maka, di tengah hidup yang sangat penat dan melelahkan, bertanya tentang kampung akhirat yang abadi adalah keniscayaan. Di tengah gemerlap hidup yang memacu peradaban materinya, bertanya tentang kabar sahabat sejati adalah kemestian: apa kabar akhirat? Tapi ia akan lebih berhak bertanya: apa kabar kita sendiri? Masihkah kita menjadi pengejar akhirat? Di sini segalanya terasa sangat adil. Bila kita menjauh, Ahirat pun akan menjauhi kita. Bila kita menghindarinya, ia juga akan menghindari kita. Tapi bila kita mendekat, akhirat pun akan mendekat. Kita mesti bersyukur, dari sisi yang lain, betapa dekat atau jauhnya akhirat bisa kita rasa, di lubuk hati yang paling dalam, di kedalaman iman yang bercahaya, kita bisa bertanya. Pada segala suasana jiwa, gambaran pikiran dan bahkan pilihan selera. Maka tutur kata kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kerja-kerja dan kebanggaan prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kadar spiritualitas ruhani kita, adalah tambatan-tambatan akhirat kita, kuat atau lemahnya. Juga obsesi-obsesi kemanusiaan kita, adalah prasasti yang ditonggakkan di muka, tentang akhirat kita, kokoh atau lemahnya. Sedangkan jumlah terhitung dari kebajikan-kebajikan kita, adalah benih-benih pengharapan akan penerimaan Allah, kunci-kunci akhirat kita, berjodoh atau tidaknya. Akhirat, sahabat abadi itu masih menyisakan kesempatan untuk kita. Setidaknya hingga jenak ini. Di sini. Saat kita masih seperti ini. Jadi, cermin itu ada di sini, bersama diri kita sendiri, bersama kadar iman kita, di tengah kadar pasang surutnya. Sementara segala dosa dan kesalahan kita, adalah bebatuan terjal yang menghambat perjumpaan dengan sahabat sejati: akhirat yang dirindukan. Segala yang hidup punya pertanda. Begitu pun akhirat, tempat segala kehidupan sejati bersaksi, ada banyak pertanda. Apakah ia bersama kita atau tidak. Apakah ia mendekat kepada kita atau menjauh. Pada cermin jati diri itu ada cerita, tentang akhirat yang kian menjauh atau lebih mendekat. Bila suatu hari, terasa sangat sepi, mungkin itu tandanya kita harus bertanya, adakah akhirat telah menjauhi kita? Tutur kala kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kerja-kerja dan capaian prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Pada itu semua, mari kita bertanya, sejujurnya. Wallahu’alam Sumber Lenterakehidupan
|
|
1 Comments
|
| |
| Menjadi Orang Tua Teladan |
| 07.07.08 (6:45 pm) [edit] |
Pendidikan anak hendaknya tidak didasarkan atas tekanan atau sejumlah bentuk kekerasan dan paksaan, karena pola pendidikan seperti itu hanya akan membawa kepada pertentangan antara orang tua dengan anak-anak. Jika anak merasa disayangi dan diterima sebagai teman dalam proses pendidikan dan pengembangan mereka, maka anak akan merasa bahwa mereka adalah bagian dari keluarga. Sebagai orang tua hendaknya memperhatikan keinginan anak sepanjang keinginan tersebut tidak menyalahi norma dan aturan yang berlaku di masyarakat maupun agamanya. Begitu juga sebaliknya, anak pun juga harus tahu kewajibannya yang harus dilakukan sebelum meminta hak kepada orang tuanya. Namun, menemukan anak dengan tipe ini sangatlah sulit. Mereka cenderung tidak mengerti kewajibannya dan selalu mementingkan haknya, oleh itu sebagai orang tua harus punya perencanaan yang matang dalam mendidik anaknya lebih-lebih cara mendidik anak itu dilakukan dengan penuh kasih sayang dan keteladanan.
Betapa bahagia orang tua ketika di hari kemudian mereka dapat memetik hasil jerih payah mereka dan beteduh di bawah kerindangan tanaman yang mereka tanam? Betapa ringannya jiwa dan beningnya mata, ketika melihat buah hatinya adalah malaikat–malaikat yang berjalan di muka bumi, ketika jantung hatinya adalah mushaf Al Qur’an yang bergerak di gerumulan manusia. Namun, apakah orang tua cukup dengan sekedar menunaikan tanggung jawab dan kewajiban tersebut lantas berpangku tangan dan masa bodoh?
Keteladanan dalam pendidikan anak merupakan suatu hal yang sangat diperlukan karena terbukti ampuh dan paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak. Oleh karena itu, masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik buruknya anak. Jika orang tuanya jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan–perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka si anak akan tumbuh dalam kejujuran terbentuk dengan akhlak mulia dan menjauhkan diri dari perbuatan–perbuatan yang bertentangan dengan agama. Begitu pula sebaliknya jika orang tua seorang pembohong, penghianat, orang yang kikir, penakut dan hina maka si anak akan tumbuh dalam kebohongan, khianat, durhaka, kikir, penakut dan hina.
Adakalanya kita mengingat kembali keteladanan dalam Islam, ungkapan kata keteladanan biasanya disebut dengan “uswatun khasanah” yang sebenarnya diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, seperti firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Al Ahzab: 21 “Sesungguhnya telah ada pada (diri)Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Pribadi agung yang terdapat dalam kehidupan Rasulullah SAW, sebagai pembawa risalah tertulis dalam tinta emas sejarah Islam. Betapa hebatnya beliau yang kehidupannya menjadi suri teladan hidup bagi umatnya. Bahkan setelah beliau wafat sepantasnya beliau mendapatkan gelar pelopor dunia dalam segala bidang kehidupan, baik perjuangan, moral, akhlak, rumah tangga, pribadi dan sebagainya. Ungkapan uswatun khasanah amat pantas bagi Nabi Muhammad SW, nabi adalah sosok yang bijaksana mendidik umat dan santun dalam bergaul. Maka pantas pula apabila beliau mendapatkan julukan Al Amin, bersifat amanah, seperti firman Allah SWT dalam AL Qur’an surat Al Qalam : 4 berbunyi “Dan sesungguhnya kamu benar – benar berbudi pekerti yang agung.” Selain itu keteladanan beliau ditunjukkan dengan sikapnya yang pemurah, pengasih, penyayang. Oleh karenanya tidaklah mengherankan apabila didalam risalah kerasulannya beliau mendapatkan sebutan rahmatan lil ‘alamin. Firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Anbiya: 107 dikatakan “Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Pun demikian dengan orang tuanya, mereka menganggap bahwa anak adalah investasi masa depan kita. Lantas, mengapa kita tidak mempersiapkan cara yang tepat dalam pendidikan anak-anak kita dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakatnya. Bagi orang tua, mendidik anak yang dilakukan tanpa dipikir masak-masak terlebih dahulu, kelancangan lidah, dan merasa dirinya lebih tinggi dari pada orang lain dengan alasan agar anak menjadi pemberani. Yang jelas, hal itu bukanlah metode mendidik yang efektif. Sebagai orang tua, ajarilah anak kita bagaimana berpikir terlebih dahulu dan termenung berpikir bukan melamun sebelum melakukan aktivitas yang akan dikerjakannya. Orang Amerika dan Jepang terkenal dalah hal ini, mereka lebih banyak berbicara planning daripada action. Ketika berbicara rencana (berpikir sebelum melakukan kegiatan) jauh lebih lama daripada pelaksanannya itu sendiri. Bisa jadi pelaksanaannya hanya satu jam tapi berpikirnya lebih dari satu bulan.
Dengan membiasakan anak berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan suatu hal. Maka, kelak di kemudian hari akan membiasakan anak dapat mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Pembiasaan itu dapat dimulai dari hal-hal yang kecil, misalnya sebelum makan anak ditanyakan dari mana asal makanan yang akan kita makan? Atau menanyakan bagaimana akibatnya jika sehari tanpa makan apapun? Jika anak bisa mengetahui hal tersebut maka pantang bagi anak untuk menghambur-hamburkan (memubazirkan) makanan. Karena di sekitar kita masih banyak orang yang kekurangan makan dan bahkan tidak makan sama sekali.
Dengan demikian, orang tua mempunyai tugas yang tidak hanya terbatas pada masalah memberi nafkah saja, akan tetapi juga mencakup tanggungjawab pendidikan secara luas. Orang tua juga berperan sebagai guru yang menjadi pembentuk masa depan, ia adalah langkah pertama dalam pembentukan kehidupan yang menuntut individu untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan. Semoga di masa depan kita menemukan malaikat-malaikat yang kita tanam dan kita jualah yang akan memetik hasilnya. Sengata, 9 April 2008 Sumber: MKPD
|
|
0 Comments
|
| |
| Motorola And Kodak Announce New MOTOZINE ZN5 |
| 06.23.08 (6:44 pm) [edit] |
|
Motorola and Kodak have jointly announced the launch of new MOTOZINE ZN5, the first mobile phone to combine world-class innovation from both companies - Motorola’s ModeShift Technology and KODAK Imaging Technology, aiming to deliver an immersive and easy mobile imaging experience. The latest MOTOZINE ZN5 mobile phone will feature an 2.4-inch TFT display (256K colors/240 x 320 pixels) and ultra-fast 5 megapixel camera with auto-focus, Xenon flash and optimized settings for low-light environments. “Today’s creative consumers not only want to be the photographer, but also the retoucher, the exhibitor and the critic,” said Jeremy Dale, corporate vice president, mobile devices marketing, Motorola, Inc. “The MOTOZINE ZN5 lets them be all the things they want to be.” In addition, this 5 megapixel camera phone also incorporates Motorola’s patented CrystalTalk technology to reduce the background noise, enabling users to enjoy clear conversation. “KODAK Imaging Technology combines Kodak’s unparalleled experience in imaging science with easy connectivity to the company’s vast portfolio of products and services,” said John Blake, general manager digital capture and imaging devices group, vice president Eastman Kodak Company. “We have redefined the quality, convenience and connectivity of mobile imaging devices. We have worked closely with Motorola to create a device that not only delivers Kodak-quality pictures, but allows consumers to explore a wide range of options for sharing their photos with friends and family around the world.” According to the company, “With one touch, photos can be viewed right from the home screen; no menus, no searching. This multimedia device provides a fun, quick and easy way to share favorite photos. Pictures can be uploaded via Gallery Link in one simple click and instantly shared to the KODAK Gallery (www.kodakgallery.com) to be viewed, stored and shared with friends and family. ShoZu can be used to upload photos to a variety of social networking sites. ZN5 comes with KODAK EASYSHARE Software, the world’s most used photo software, making it easy to organize, edit, share, store and find mobile pictures. Consumers can transfer pictures to a computer via USB, Wi-Fi or Bluetooth wireless technology and print wirelessly on Bluetooth-compatible KODAK All-in-One Printers and at KODAK Picture Kiosks.” The new MOTOZINE ZN5 handset will be first shipping in China starting July 2008 and is expected to available worldwide through the rest of the year. <by mydigitallife >
|
|
5 Comments
|
| |
| Words of Wisdom from Prophet Mohammad |
| 06.21.08 (1:55 am) [edit] |
|
Words of Wisdom from Prophet Mohammad Fifty hadiths selected by Dr. Shahid Athar 1.. "Acquire knowledge, it enables its professor to distinguish right from wrong; it lights the way to heaven. It is our friend in the desert, our company in solitude and companion when friendless. It guides us to happiness, it sustains us in misery, it is an ornament amongst friends and an armour against enemies." (widely attributed to the Prophet Mohammed (pbuh)) 2.. "A Muslim who plants a tree or sows a field, from which man, birds and animals can eat, is committing an act of charity." (Muslim) 3.. "There is a polish for everything that takes away rust; and the polish for the heart is the remembrance of Allah." (Bukhari) 4.. "What actions are most excellent? To gladden the heart of human beings, to feed the hungry, to help the afflicted, to lighten the sorrow of the sorrowful, and to remove the sufferings of the injured." (Bukhari) 5.. "The most excellent Jihad is that for the conquest of self." (Bukhari) 6.. "If you put your whole trust in Allah, as you ought, He most certainly will satisfy your needs, as He satisfies those of the birds. They come out hungry in the morning, but return full to their nests." (Tirmidhi) 7.. "When Allah created his creatures He wrote above His throne: 'Verily, my Compassion overcomes my wrath." (Bukhari & Muslim) 8.. "Allah will not give mercy to anyone, except those who give mercy to other creatures." (Abdullah b. Amr: Abu Daud & Tirmidhi) 9.. " 'Son, if you are able, keep your heart from morning till night and from night till morning free from malice towards anyone.' Then the Prophet said: 'O my son! This is one of my laws, and he, who loves my laws verily loves me.' " (Bukhari) 10.. "Say what is true, although it may be bitter and displeasing to people." (Baihaqi) 11.. "Kindness is a mark of faith, and whoever is not kind has no faith." (Muslim) 12.. "When you see a person who has been given more than you in money and beauty, look to those, who have been given less." (Muslim) 13.. "If you do not feel ashamed of anything, then you can do whatever you like." (Abu-Masud: Bukhari) 14.. "O Lord, grant me your love, grant me that I love those who love you; grant me, that I might do the deeds that win your love. Make your love dearer to me than the love of myself, my family and wealth." (Tirmidhi) 15.. "It is better to sit alone than in company with the bad; and it is better still to sit with the good than alone. It is better to speak to a seeker of knowledge than to remain silent; but silence is better than idle words." (Bukhari) 16.. "Verily, a man teaching his child manners is better than giving one bushel of grain in alms." (Muslim) 17.. "Whoever is kind, Allah will be kind to him; therefore be kind to man on the earth. He Who is in heaven will show mercy on you."(Abu Daud: Tirmidhi) 18.. "It is difficult for a man laden with riches to climb the steep path, that leads to bliss." (Muslim) 19.. "Once a man, who was passing through a road, found a branch of a tree with torns obstructing it. The man removed the thorns from the way. Allah thanked him and forgave his sins." (Bukhari) 20.. "Who are the learned? Those who practice what they know." (Bukhari) 21.. "Allah has revealed to me, that you must be humble. No one should boast over one another, and no one should oppress another." (Iyad b. Hinar al-Mujashi: Muslim) 22.. "Who is the most favoured of Allah? He, from whom the greatest good comes to His creatures." (Bukhari) 23.. "A true Muslim is thankful to Allah in prosperity, and resigned to His will in adversity." (Muslim) 24.. "A Muslim who meets with others and shares their burdens is better than one who lives a life of seclusion and contemplation." (Muslim) 25.. "Serve Allah, as you would if you could see Him; although you cannot see Him, He can see you. (Umar: Muslim) 26.. "Allah does not look at your appearance or your possessions; but He looks at your heart and your deeds." (Abu Huraira: Muslim) 27.. "The best richness is the richness of the soul." (at the field ofTabuk, Syria, Rajab 9 A.H.: Bukhari) 28.. "Keep yourselves far from envy; because it eats up and takes away good actions, like a fire eats up and burns wood." (Abu Daud) 29.. "Much silence and a good disposition, there are no two things better than these." (Bukhari) 30.. "Verily, Allah is mild and is fond of mildness, and He gives to the mild what He does not give to the harsh." (Muslim) 31.. "Whoever loves to meet Allah, Allah loves to meet him." (Bukhari) 32.. "Once the Prophet was asked:'Tell us, which action is dearest to Allah?' He answered:'To say your prayer at its proper time.' Again he was asked: 'What comes next?' Mohammed said: 'To show kindness to parents.' 'Then what?' he was asked, 'To strive for the cause of Allah!' " (Ibn Masad: Bukhari) 33.. "When two persons are together, two of them must no whisper to each other, without letting the third hear; because it would hurt him." (Bukhari & Muslim) 34.. "Verily, it is one of the respects to Allah to honor an old man." (Bukhari) 35.. "All Muslims are like a foundation, each strengthening the other; in such a way they do support each other." (Abu Musa: Bukhari & Muslim) 36.. "Strive always to excel in virtue and truth." (Bukhari) 37.. "You will not enter paradise until you have faith; and you will not complete your faith till you love one another." (Muslim) 38.. "He, who wishes to enter paradise at the best gate, must please his father and mother." (Bukhari & Muslim) 39.. "I am leaving two things among you, and if you cling to them firmly you will never go astray; one is the Book of Allah and the other is my way of life." (Farewell Pilgrimage: Muatta) 40.. "Allah is One and likes Unity." (Muslim) 41.. "The best of alms is that, which the right hand gives and the left hand knows not of." (Bukhari) 42.. "The perfect Muslim is not a perfect Muslim, who eats till he is full and leaves his neighbors hungry." (Ibn Abbas: Baihaqi) 43.. "He is not of us who is not affectionate to the little ones, and does not respect the old; and he is not of us, who does not order which is lawful, and prohibits that which is unlawful." (Ibn Abbas: Tirmidhi) 44.. "No man is a true believer unless he desires for his brother that, what he desires for himself." (Abu Hamza Anas: Bukhari & Muslim) 45.. "To strive for the cause of Allah from daybreak to noon and sunset is better than the goods and enjoyment of the whole worldly life." (Bukhari) 46.. "Be not like the hypocrite who, when he talks, tells lies; when he gives a promise, he breaks it; and when he is trusted, he proves dishonest." (Bukhari & Muslim) 47.. "The proof of a Muslim's sincerity is, that he pays no heed to that, which is not his business." (Abu Hureira: Tirmidhi) 48.. "Do you know what is better than charity and fasting and prayer? It is keeping peace and good relations between people, as quarrels and bad feelings destroy mankind." (Muslims & Bukhari) 49.. "Conduct yourself in this world, as if you are here to stay forever; prepare for eternity as if you have to die tomorrow." (Bukhari) 50.. "The worldly comforts are not for me. I am like a traveller, who takes a rest under a tree in the shade and then goes on his way." (Tirmidhi) Shahid Athar M.D. is Clinical Associate Professor of Internal Medicine and Endocrinology, Indiana University School of Medicine Indianapolis, Indiana, and a writer on Islam. Source: Islamfortoday
|
|
0 Comments
|
| |
| Ketekunan itu mahal |
| 06.19.08 (5:17 am) [edit] |
|
Di sebuah negeri hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan. Mereka adalah pengrajin emas dan pengrajin kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan itu, sebab itu adalah pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang dihasilkan: cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai penghias. Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil kerja itu ke kota. Hari pasar, demikian mereka menyebut hari itu. Mereka akan menjual barang-barang logam itu dan membeli keperluan selama sebulan. Beruntunglah pekan depan akan ada rombongan tamu agung mengunjungi kota dan bermaksud memborong barang-barang yang ada disana. Kabar ini tentu membuat mereka senang. Tentu, berita ini mendorong para pedagang agar membuat lebih banyak barang untuk dijajakan. Tak terkecuali dua orang pengrajin yang menjadi tokoh kita ini. Siang-malam terdengar suara logam ditempa. Tungku-tungku api seakan tak pernah padam. Kayu bakar yang membara seakan mewakili semangat keduanya. Percik-percik api yang timbul tak pernah dihiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias telah dihasilkan. Hari pasar makin dekat. Dan, lusa adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke kota. Hari pasar telah tiba dan keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal telah digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan. Keduanya pun berjejer berdampingan. Tampaklah barang-barang logam yang telah dihasilkan. Namun, ah sayang.., ada kontras diantara keduanya. Walaupun terbuat dari logam mulia, barang-barang yang dibuat oleh pengrajin emas tampak kusam. Warnanya tidak berkilau. Ulir-ulirnya kasar. Pokok-pokok simpul rantai tidak rapi. Seakan pembuatnya adalah orang yang tergesa-gesa. ”Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan menanyakan kenapa perhiasan kawannya tampak kusam. ”Setiap orang akan memilih daganganku, sebab emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin emas lagi. ”Apalah artinya logam buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya. Aku akan membawa uang lebih banyak darimu” Pengrajin kuningan hanya tersenyum. Ketekunannya mengasah logam membuat semua hasil karyanya lebih bersinar. Ulir-ulirnya halus. Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperti lingkaran yang tak putus. Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap dipandang mata. Ketekunan memang mahal. Hampir semua orang yang lewat tak menaruh perhatian pada pengrajin emas. Mereka lebih suka mendatangi cincin dan kalung kuningan. Begitupun tetamu agung yang berkenan datang. Mereka pun lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan logam mulia. Sebab, emas itu tidaklah cukup membuat mereka tertarik dan mau membelinya. Sekali lagi, terpampang kekontrasan di hari pasar itu. Perajin emas tertegun diam dan perajin kuningan tersenyum senang. Hari pasar usai. Para tetamu telah kembali pulang. Kedua pengrajin itu pun telah membereskan barang dagangan. Dan, keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan hari itu. – Teman, ketekunan memang mahal. Tak banyak orang yang bisa menjalaninya. Begitupun kemuliaan dan harga diri. Tak banyak orang yang menyadari bahwa kedua hal itu tak berasal dari apa yang kita sandang hari ini. Setidaknya tindak-laku kedua pengrajin di atas adalah potongan siluet kehidupan kita. Ketekunan adalah titin jalan panjang yang licin berliku. Seringkali jalan panjang itu membuat kita tergelincir dan jatuh. Sering pula titian itu menjadi saringan penentu bagi setiap orang yang hendak menuju kepada kebahagiaan di ujung simpulnya. Namun percayalah, ada balasan bagi ketekunan. Di ujung sana ada sesuatu yang menunggu setiap orang yang mau menekuni jalan itu. Emas dan kuningan tentu punya nilai yang berbeda. Tapi, apakah kemuliaan dinilai hanya apa yang disandang keduanya? Apakah harga diri hanya ditunjukkan dari simbol-simbol yang tampak dari luar? Sebab, kita sama-sama belajar dari pengrajin kuningan bahwa kemuliaan adalah buah dari ketekunan. Dan, bahwa kemalasan akan membuahkan kelemahan jiwa. Membentuk ketekunan mungkin hampir sama sulitnya dengan menempa logam, bahkan lebih sulit. Tanyakan saja kepada mereka yang berusaha untuk tekun qiyamullail, betapa sulit dan keras usahanya. Atau tanyakan kepada mereka bagaimana beratnya membiasakan diri shoum sunnah. Atau coba tanyakan kepada mereka yang sudah menekuni tilawah Qur’an 10 halaman hingga satu juz setiap harinya. Tanyakan kepada mereka yang punya hafalan 5 juz. Atau coba tanyakan pula kepada saudara kita yang sudah berusaha menekuni diri selalu hadir di majelis halaqoh dan majelis taklim. Apalagi mereka yang menekuni peran sebagai guru, murabbi atau ustadz. Hanya orang bermental baja yang bersedia menekuni pekerjaan itu. Sekali lagi, ketekunan itu mahal. Dan, ketekunan itulah yang bisa merubah nilai atau harga diri seseorang, walaupun pada mulanya ia hanyalah berasal dari keluarga "kuningan" bukan keluarga "emas". Karakter diri yang kuat, kedewasaan, daya juang yang tinggi dan kematangan bertindak hanya mungkin diraih oleh orang-orang yang punya ketekunan dan mau berproses untuk bisa menjadi tekun. Tingkat ketekunan adalah ukuran yang bisa dipercaya untuk menilai seseorang. Bisa jadi saat ini kita pandai, kaya, punya kedudukan yang tinggi, dan hidup sempurna layaknya emas mulia. Namun, adakah semua itu berharga bila ulir-ulir hati kita kasar dan kusam? Adakah itu mulia, jika lekuk-lekuk kalbu kita koyak dan penuh dengan tonjolan-tonjolan kedengkian? Adakah itu semua punya harga jika pokok-pokok simpul jiwa yang kita punya tak dipenuhi dengan simpul-simpul ikhlas dan perangai nan luhur? Teman, mari kita asah kalbu dan hati kita agar bersinar mulia. Mari kita bentuk ulir dan leku-lekuk jiwa kita dengan ketekunan agar menampilkan cahaya-Nya. Susunlah simpul-simpul itu dengan jalinan keluhuran budi dan perilaku. Tempalah dengan kesungguhan diri agar hati kita tidak keras dan menjadi lembut, luwes, serta mampu memenuhi hati orang lain. Percayalah, ada imbalan untuk semua itu. Amin. Sumber: Lenterakehidupan
|
|
0 Comments
|
| |
| Nama-nama Islami [Islam] untuk Anak / Bayi |
| 06.19.08 (5:12 am) [edit] |
NAMA BAYI LAKI-LAKI
Aid, yang Kembali Abbas, Paman Nabi2 Abdul Alim, Hamba yang Maha Tahu Abdul Ally, Hamba yang Maha Tinggi Abdul Azhim, Hamba yang Maha Agung Abdul Aziz, Hamba yang Maha Kuat Abdul Bari, Hamba yang Maha Pencipta Abdul Basits, Hamba yang Maha Meluaskan Abdul Fatah, Hambata yang Maha Membuka Rizki Abdul Ghaffar, Hamba yang Maha Pengampun Abdul Ghani, Hamba yang Mahakaya Abdul Hadi, Hamba yang Maha Memberi Petunjuk Abdul Hafizh, Hamba yang Maha Menetapkan Hukum Abdul Hakim, Hamba yang Maha Bijaksana Abdul Halim, Hamba yang Maha Lembut Abdul Hamid, Hamba yang Maha Terpuji Abdul Haq, Hamba yang Maha Benar Abdul Hasib, Hamba yang Maha Penghitung Abdul Jabar, Hamba yang Mahaperkasa Abdul Jalil, Hamba yang Mahaluhur Abdul Karim, Hamba yang Maha Pemurah Abdul Khaliq, Hamba yang Maha Pencipta Abdul Latief, Hamba yang Maha Lembah-lembut Abdul Majid, Hamba yang Maha Mulia Abdul Matin, Hamba yang Maha Perkasa Abdul Mu'iz, Hamba yang maha Pemberi Kemuliaan Abdul Muhaimin, Hamba yang Maha Penjaga Abdul Muhsin, Hamba yang Maha Baik Abdul Qadir, Hamba yang Maha Kuasa Abdul Qahhar, Hamba yang Maha Penakluk Abdul Quddus, Hamba yang Maha suci Abdul Wahhab, Hamba yang Maha Pemberi Abdul Wahid, Hamba yang Maha esa Abdullah, Hamba Allah Abdun Nasir, Hamba yang Maha Penolong Abdur Rauf, Hamba yang Maha Pengasih Abdur Rafi, Hamba yang Maha Pengangkat Abdur Rahim, Hamba yang Maha Penyayang Abdur Rahman, Hamba yang Maha Pengasih Abdur Rasyid, Hamba yang Maha pandai Abdur Rauf, Hamba yang Maha Penyayang Abdur Razaq, Hamba yang Maha Memberi Rizki Abdus Salam, Hamba yang Maha Sejahtera Abdus Shabir, Hamba yang Maha Penyabar Abdus Syakur, Hamba yang Maha Berterima kasih Abdut Tawwab, Hamba yang Maha Penerima Abid, Ahli Ibadah Adib, Beradab Adil, Yang Adil Adnan, Mendiami, menempati Ady, Kaum yang bersiap perang Afif, Selamat dari Kehinaan Ahmad, Memuji Ali, Nama Khalifah keempat Alif, Lemah Lembuh Alim, Pandai Allam, Banyak Ilmu Alwan, Tinggi Aly, Mulia Amin, yang dapat dipercaya Amir, Raja, Pemimpin Ammar, Kuat imannya Amru, Kehidupan Anis, Ramah Anwar, Bercahaya Aqil, Paham Arif, Yang tahu Arkan, Kemuliaan As'ad, Lebih Bahagia Ashim, Yang memelihara Diri Asyam, Pemimpin yang Mulia Asyraf, lebih Mulia Asyur, Hari ke-10 Bulan Muharam Atha, Rizki Athif, Orang yang lemah lembut Atiq, Mulia Ayub, Nama Nabi Azhar, bercahaya Aziz, yang perkasa Azzam, berkemauan keras Badar, Bulan Purnama Badrani, 2 bulan Purnama Bahij, yang cerita, tampan, pemandangan yang elok Bahir, yang mengalahkan Bahy, Tampan dan bermata indah Bandar, Pelabuhan Bari', Terjaga dari perbuatan dosa dan aib Barraq, Berkilauan Basil, Pemberani Basman/Bassam, yang banyak senyum Basyir, berita gembira Bilal, Nama sahabat Burhan, Penjelasan Daffa', Banyak memiliki pertahanan diri Dany, Dekat Daris, Pembaca Darwisy, Yang banyak beribadah Dary, Arif bijaksana Daud, Nama Nabi Dhahy, Tempat yang terang Dhaif, Tamu Dhawy, Bersinar Dhafi, yang lebar rambutnya Daifullah, Tamu Allah Dhiya, Sinar/Cahaya Dzahab, emas Dzakir, yang kuat daya ingatnya Dzakwan, Sangat cerdas Dzaky, cerdas, pandai Dzamar, sesuatu yang harus dipertahankan Dzikra, Peringatan Fadhal, kebaikan Fadhil, Yang berbudi Fadi, Yang menebus Fadlal, Keutamaan Fadlil, Yang Utama Faishal, Hakim Fakhir, Bagus Falih, Lurus Fallah, Kemenangan Farhan, Kesenangan / kebahagiaan Fari', Perawakan tinggi Farid, satu-satunya, tiada bandingnya Faris, Pemburu Farras, Cerdas Farruq, Yang membedakan antara hak dan batil Fathin, Cerdas Fatih, Penakluk Fauzan, Keberuntungan Fawa, Kemenangan / Keberhasilan Fuad, Hati Ghali/Ghaly, Mahal / Berharga Ghalib, yang menang Habib, Yang terkasih Hadi, Yang menunjukkan Hadzal, Yang berjalan dgn cepat Hafizh, Penghafal Haidar, Pemberani Hajid, Orang yang bertahajjud Hakam, Hakim yang bijaksana Halim, Lembut dan sabar Hamdan, yang banyak pujian Hamid, yang bersyukur Hammad, yang banyak bersyukur Hanif, yang lurus dalam beragama Harun, Nama Nabi Hasan, Baik Hasib, Bangsawan Hasyid, Orang yg selalu siap Hasyim, Yang memecahkan perkara Hatim, Mengadili Hazim, berkemauan keras Hibban, yang dikasihi Hilal, Bulan Sabit Hilmy, Penyabar/Pemurah Hisyam, Kebaikan Hud, Nama Nabi Humam, Pemberani Husain, sangat baik Husam, Pedang yang tajam Huwaidi, Yang mempunyai Sifat menakjubkan Ibrahim, Nama Nabi Imam, Teladan / Pemimpin Isa, Nama Nabi Ismail, Nama Nabi Jalal, Orang besar yang dihormati Jalil, Memiliki kekuasaan yang besar Jamal, Keindahan Jamaluddin, Keindahan agama Jamil, yang baik Jauhar, Permata Jibran, Perintah Jihad, Perjuangan Kaisan, Cerdas Kamal, Kesempurnaan / kelengkapan Kamil, yang sempurna / lengkap Karom, Kehormatan / Kemuliaan Karim, yang terhormat Kasib, Orang yang beruntung Katib, Penulis Khairi, Kebaikan Khairullah, kebaikan Allah Khalid, Kekal / Abadi Khalifah, Pemimpin Khalil, Teman karib Khalish, Murni, bersih Khatib, orang yang menyampaikan Khutbah Luqman, Jalan terang Lutfhi, Kehalusanku, kelembutanku Mabruk, diberkahi Mahbub, yang dicintai Mahdy, yang mendapat hidayah Mahfuzh, yang dijaga, dipelihara Mahir, pandai Mahmud, yang terpuji Majid, yang baik Malik, Raja / Yang memiliki Maqbul, Diterima Marjan, Batu Mutiara Marzuq, yang memperoleh Rizky Mas'ud, yang dianugerahi kebahagiaan Masyurm Terkenal Mathar, Hujan Mauhub, yang dianugerahi Miqdad, Orang yang mencegah kemungkaran Mu'adz, Nama sahabat Mubarak, Yang diberkahi Muhajir, Orang yang berhijrah Muhammad, Nama Nabi Muhsin, yang berbuat baik Mujahid, Pjuang Mukhtar, Pilihan Mukmin, Orang yang beriman Mumtaz, Istimewa Munir, bercahaya Murad, Maksud Mursyid, Penunjuk jalan Mushlih, orang yang melakukan perbaikan Muslim, orang Islam Musthafa, Pilihan Nabil, Terhormat Nafal, Pemberian Nafis, berharga Najib, Mulia Nashir, Yang menolong Nasrullah, Pertolongan Allah Naufal, Pemberian Nayif, tinggi Nazhim, Pengarang Puisi Nazhir, yang memberi peringatan Nibras, Pemberani Nu'man, Yang memiliki kenikmatan Nuh, Nama Nabi Nuruddin, Cahaya Agama Nuzhmi, jamaah, golongan Qashid, yang menuju pada kemudahan Qasim, yang membagi Gatadah, Nama sahabat Ra'if, sangat penyayang Ra'uf, memiliki banyak kasih sayang Rabbah, yang sangat beruntung Rafi', Kedudukan yang tinggi & mulia Raihan, Rizky Rajab, Bulan Rajab Ramadhan, Bulan Ramadhan Ramiz, Yang merumuskan Ramy, Bintang Ramzi, Rumus Ramzy, yang dapat disimbolkan Rasul, Utusan Rasyad, Petunjuk / Istiqamah Rasyid, Petunjuk Rasyiq, Tangkas, Gesit Ratib, yang tetap Ridhwan, Kepuasan, menerima Riyadh, Taman Rusydi, Petunjuk Sa'id, Senang / Bahagia Safar, berpergian Sahir, yang berjaga diwaktu malam Saif, pedang Sajid, orang yang sujud kepada Allah Salam / Salim, Selamat Salman, nama sahabat Sami, Luhur / Tinggi Samir, Siang dan Malam Sayyid, Pemuka / Pemimpin Shabir / Shabri, Yang sabar / kesabaran Shadiq, teman Shafy, sahabat karib Shahib, sahabat Shamid, teguh / tegar Shiddiq, yang jujur Sidqi, kejujuran Siraj, lentera / Lampu Su'ud, keberuntungan Sulaiman, nama Nabi Sulthan, Kekuasaan Sya'ban, Bulan Sya'ban Syaddad, yang kuat Syafi, yang menyembuhkan Syafi', penolong / perantara Syahid, orang yg meninggal fi sabilillah Syakir, yang bersyukur Syarif, yang mulia Tamim, sempurna keadaannya Tamir, banyak rizki dan kebaikan Tamman, sempurna Taufiq, petunjuk Thaha, Nama surat dalam Al Qur'an Thariq, Jalan Thayyib, Baik Tsani, yang kedua Tsaqif, yang pandai Umar, Nama Khalifah yang kedua Umran, Kemakmuran Utsman, Nama Khalifah ketiga Wadud, yang dicintai Wafi, yang melaksanakan / yang memenuhi (janji) Wahid, satu-satunya Wali, yang mencintai Walid, yang dilahirkan Washil, yang menghubungkan Wasim, yang berwajah bagus Ya'qub, Nama Nabi Yafi, Lincah Yahya, Nama Nabi Yasir, Mudah / gampang Yazid, lebih Yunus, Nama Nabi Yusuf, Nama Nabi Zaghlul, cepat & ringan Zahran, berkilau Zahy, Wajah yang Elok Zaky, Suci Zakariya, Nama Nabi Zhafar, kemenangan Zhafir, yang menang / yang beruntung Zhahir, yang tampak, yang nyata Zuhair, bersinar
NAMA-NAMA BAYI PEREMPUAN
A'idah, Anugrah Adzra', Perawan Afifah, yang menjaga kesucian diri Aisyah, Istri nabi Aliyah, tinggi Alya', langit Aminah, yang terpercaya Amirah, Pemimpin Anisah, gadis perawan / lemah lembut Aqilah, Terhormat, pandai Arij, Harum Asahy, warna-warni Ashimah, yang menjaga Asilah, yang berbuat baik Asma, Unggul Athifah, kasing sayang Athirah, yang harum Atikah, jernih Atiqah, cantik Azhar, Bunga2 Azizah, yang mulia Badriyyah, malam rembulan Balqis, Ratu negeri saba' Basamah, tersenyum Basimah, yang tersenyum Dalilah, bukti Daliyah, yang menunjukkan Danah, Batu mulia Dananir, Dinar Daulah, Negara Dunya, Dunia Dien, agama Dhaifa, tamu Dhafiyah, mewah Dinah, taat Diyanah, Agama Durah, mutiara Dzahabiyyah, yang memiliki sifat emas Dzakirah, yang berzikir Dzakiyyah, cerdas Dzikra, peringatan Fa'izah, yang beruntung Fadhilah, keistimewaan Fadiyah, yang terlindungi Faidah, Manfaat Fairuz, Batu mulia Farah, senang Farhah, keceriaan Faridah, tiada bandingnya Fathimah, Putri Nabi Fathinah, cerdas Fathiyyah, Kemenangan Fatin, yang menakjubkan Fauziyyah,yang beruntung Fikriyyah, berfikir Firdaus, taman surga Gaitsa', awan turunnya hujan Ghaniyyah, wanita kaya Ghaniyah, wanita penyenandung Ghazalah, matahari terbit Habibah, yang tercinta Hadiyah, hadiah Hafizhah, pemelihara Hajar, Istri nabi Ibrahim AS Hajir, yang berhijrah Hajirah, yang berhijrah Hakimah, yang bijaksana Halimah, yang lebih, sabar Hamamah, merpati Hamidah, Yang memuji Hana', suka cita Hanan, Kasih sayang Hamsah, suara pelan Hanin, kasih sayang Haniyah, lemah lembut Hasanah, kebaikan Hasibah, keturunan terpandang Hasna', kebaikan, cantik Hasyimiyyah, yang mulia Haura', putih kulitnya Haya, Puteri Hazimah, keteguhan hati Husna, kelembutan Husniyah, yang baik Hiwaidah, yang menakjubkan, kelembutan Inas, baik hati Inayah, tuntunan Izah, kemuliaan Ja'izah, hadiah Jahra', memiliki pipi yang indah Jaida', kebaikan Jalilah, terhormat Jamilah, yang indah Jauzah, bintang Jawahir, permata Jihan, menjadikan terhormat Juwairiyyah, istri nabi Kadziyah, bunga yang harum Kaltsum, cantik Kamilah, sempurna Karamah, kemuliaan Karimah, Mulia Kautsar, telaga surga Kazhimah, sanggup menahan amarah Khadijah, istri nabi Khairiyah, baik Khalishah, murni Khaznah, harta yang disimpan Labibah, cerdas Lahfah, kerinduan Laila, malam gelap Luthfiyyah, halus Mahabbah, kecintaan Mahdiyyah, yang mendapat hidayah Mahirah, pandai Maimunah, yang beruntung Mariyah, wajah yang berseri-seri Marjanah, sebutir mutiara Marmarah, baru marmer Maryam, ibu Nabi Isa Masarrah, kegembiraan Mauhibah, anugrah Mawaddah, kasih sayang Mubarakah, diberkahi Mufidah, yang berfaidah Muhdiyah, yang menunjukkan Mujahidah, pejuang Mukminah, yang beriman Munirah, yang terang Murada, yang dicintai Na'ilah, karunia Nabilah, mulia Nada, menyeru Nadiyah, yang menyeru Nafi'ah, bermanfaat Nafisah, kaya raya Nagmah, suara merdu Najah, sukses Nadjah, keberanian Najiyah, selamat Najlah', yang lebar matanya Najmah, bintang Najwa, rahasia Nasamah, pembebasan Nashirah, mendapat pertolongan dan menang Nazhimah, kumpulan mutiara Nazihah, terhindar dari hal-hal buruk Nihayah, penutur Nujud, cerdik Nur, Cahaya Nuwayyar, yang bercahaya Qamariyyah, Nama bunga Qasimah, cantik Qiladah, kalung Qismah, bagian Ra'idah, pemandu Rafi'ah, yang tinggi Rafidah, yang diberi pertolongan Rafiqah, Istri Raghdah, damai Rahaf, halus Rahimah, penyayang Rahmah, rahmat Raihanah, wanita yang baik jiwanya Raim, bukit Raima, selama Rajwa, permohonan Raniyah, yang memandang dengan terpesona Rasikhah, tegar, kuat Rasyidah, yang matang fikirannya Raudhah, taman Rifqah, himpunan Sa'adah, kebahagiaan Sa'idah, yang senang Sahilah, yang sangat mudah Sahirah, rembulan Sajidah, yang banyak bersujud Sakinah, tenang Salimah, selamat Sallamah, yang menyelamatkan Salma, selamat Salsabil, mata air surga Salwa, nama burung, madu Samar, sinar rembulan Samirah, siang dan malam Samiyah, luhur Samra', warna coklat Sarah, Istri nabi Ibrahim Sayyidah, Nyonya Shabah, waktu pagi Shabihah, wajah yang berseri-seri Shada, gema Shadiqah, yang jujur Shafa, kejernihan Shalihah, wanita yang shaleh Shiba, kerinduan Suhailah, mudah Sulthanah, pemimpin wanita Syarifah, yang mulia Syukriyyah, kesyukuran Tahani, selamat Tamimah, perlindungan Thallah, cantik Thayyibah, yang baik Tsamirah, yang berbuah Tumamah, kesempurnaan Ulfah, ramah tmah Ulya, yang luhu Umu Kultsum, Nama Puteri Nabi Unsyudah, syair yang berkumandang Wahidah, satu-satunya Waliyah, yang mencitai Wardah, bunga mawar Wasimah, Berwajah cantik Yamamah, merpati Yasamin/yasaminah, Bunga melati Zahirah, bercahaya Zahrah, bunga Zahwah, membanggakan Zainab, istri nabi Zainah, yang indah Zakiyah, Suci Zhafirah, yang beruntung Zhahirah, penolong,
|
|
82 Comments
|
| |
| Sikap Adil Kepada FPI (Pasca Kasus Kekerasan di Monas) |
| 06.06.08 (9:46 pm) [edit] |
|
Sikap Adil Kepada FPI (Pasca Kasus Kekerasan di Monas)
Oleh Abu Muhammad Waskito *) Ahad 1 Juni 2008, terjadi insiden kekerasan oleh sebagian aktivis Front Pembela Islam (FPI) terhadap sekelompok massa yang menamakan diri sebagai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). TV-TV menayangkan tindakan kekerasan para aktivis FPI terhadap massa AKKBB yang sedang menggelar aksi mendukung Ahmadiyyah. Disana ada aksi pukulan, tendangan, cacian, pengrusakan fasilitas sound system, kaca mobil, dll. Pendek kata, kita semua sangat prihatin melihatnya. Tanpa menunggu waktu lagi, SBY langsung merespon. Melalui jubir kepresidenan, Andi Malarangeng, SBY mengecam aksi anarkhis aktifis FPI di Monas. Tanggal 2 Juni SBY berbicara langsung, disiarkan TV-TV, bahwa dia menuntut ada pengusutan tuntas, dan para pelaku kekerasan ditindak secara hukum. SBY juga menekankan, “Negara kita negara hukum.” Gayung bersambut, JK berjanji akan menindak tegas pelaku kekerasan di Monas. MUI menyayangkan terjadinya kasus kekerasan di Monas itu (Republika, 2 Juni 2008). Sementara Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyyah, setelah pertemuan dengan SBY, dia mengecam FPI. Meskipun Din tidak menuntut FPI dibubarkan, dia mendukung langkah tersebut, jika Pemerintah ingin membubarkan FPI (www.jawapos.co.id, 2 Juni 2008). Arbi Sanit, pakar politik UI dan anggota PBHI, menuntut FPI dibubarkan karena mengancam kehidupan bersama (Republika, 3 Juni 2008). Sekjen GP Anshor, Malik Haramain, mengancam akan membubarkan FPI, kalau pemerintah tidak tegas. Di Cirebon markas FPI didatangi sekelompok pemuda dan sempat terjadi keributan kecil, hingga plang FPI dirobohkan oleh pemuda-pemuda tersebut (berita siang GlobalTV, 2 Juni 2008). Bukan hanya kali ini FPI diancam akan dibubarkan. Sebelumnya juga bergaung desakan agar ormas Islam yang terkenal dengan aksi-aksi nahi munkar ini dibubarkan saja. Pertanyaannya, layakkah kita menghukum FPI sedemikian keras (misalnya harus sampai dibubarkan) pasca kasus kekerasan di Monas itu? Masyarakat harus berani melihat masalahnya secara jernih, tidak ikut-ikutan emosi. Saya melihat ada beberapa poin penting yang dilupakan dalam kasus di atas, padahal semua itu seharusnya dilihat secara cermat, sehingga kita bisa mengetahui apakah FPI telah berbuat zhalim atau tidak? Pertama, menurut Kapolres Jakarta Pusat, Komisaris Besar Heru Winarko, beliau menyesalkan massa AKKBB. Pasalnya, mereka mulanya hanya berencana berdemonstrasi di Bundaran HI, tetapi ternyata AKKBB beraksi sampai ke Monas. “Ternyata, mereka menuju Monas juga,” kata Kombes Heru Winarko (Republika, 2 Juni 2008. Artikel berjudul, “Bentrokan Akibat Pemerintah Lamban,” hal. 1). Dari keterangan di atas, jelas AKKBB telah melanggar hukum. Mereka melampaui batas ijin aksi yang diajukan ke pihak kepolisian. Jika mereka beraksi sesuai ijin semula, bisa jadi kasus tersebut tidak perlu terjadi. & nbsp; Kedua, dalam tayangan dokumentasi kasus Monas di GlobalTV siang hari, disana diperlihatkan petikan kejadian-kejadian di Monas tersebut. Pada mulanya, para pemuda FPI hanya kumpul-kumpul di salah satu lokasi Monas sambil mendengarkan orasi pimpinan aksi yang membawa TOA. Mereka kadang bertakbir dan juga membaca kalimat “Laa ilaha illa Allah”. Artinya, mereka tidak memiliki agenda untuk menyerang siapapun. Aksi mereka pada awalnya tertib, tidak anarkhis. Mulai timbul masalah ketika AKKBB melakukan aksi dan orasi dengan sound system kuat, tidak jauh dari lokasi para aktivis FPI. Satu sisi, AKKBB mendukung Ahmadiyyah, di sisi lain mereka melakukan aksi di dekat para pemuda FPI. Anda bisa bayangkan, meneriakkan dukungan keras-keras untuk Ahmadiyyah di dekat telinga aktivis FPI. Itu bisa dianggap oleh mereka sebagai nantangin perang. Saya melihat, para pemuda FPI lebih tepat disebut terprovokasi oleh aksi massa AKKBB. Mereka tidak ada niatan sejak awal untuk berbuat kekerasan. Semula mereka beraksi dengan tertib. Ketua MK, Jimly Asshidiqqie, berkomentar, “AKKBB harus mawas diri, menghentikan provokasi, dan kemudian jajaran NU, Muhammadiyyah, sampai ke daerah (juga harus mawas diri –pen). Begitu juga dengan FPI, tidak usah terprovokasi, ini bahaya benar.” (Republika, 3 Juni 2008). Ketiga, kalau melihat kejadian kekerasan itu, disana terlihat dengan jelas, bahwa komando aksi FPI di Monas berusaha keras menertibkan para aktivisnya. Mereka berusaha mencegah pemukulan, tendangan, menenangkan aktivis-aktivisnya. Terlihat berkali-kali sebagian pemuda aktivis FPI mencegah tindak kekerasan itu, meskipun mereka tidak mampu mencegah secara keseluruhan. Jika disana terjadi kasus-kasus pemukulan, tendangan, cacian, atau perusakan fasilitas, apakah lalu mata kita buta untuk melihat bahwa disana juga ada upaya-upaya mendamaikan hati para pemuda yang sudah terbakar emosinya itu? Jika tidak ada upaya mendamaikan, saya yakin akan jatuh korban sangat banyak. Minimnya korban dalam kasus tersebut, menunjukkan disana ada kontrol, meskipun tidak mampu mencegah aksi-aksi individu yang terlanjur terjadi. Selain kita menyesalkan kasus kekerasan tersebut, kita harus jujur mengakui, bahwa para pemuda-pemuda FPI juga berusaha mencegah kekerasan itu sekuat tenaga. Semua ini harus dihargai. Pihak kepolisian sering berdalih, “Petugas polisi kan manusia juga.” Polisi bisa khilaf, melakukan kekerasan di luar kontrol komando. Begitu pula dengan kasus para pemuda FPI itu. Secara komando tidak ada instruksi kekerasan, tetapi di lapangan terjadi, karena terbakar emosi. Keempat, jika sebagian pelaku kekerasan di Monas ditindak secara hukum, tidak berarti lembaga FPI-nya harus dibubarkan. Itu berbeda konteksnya. Tindakan kekerasan di Monas dilakukan oleh –sebut saja- oknum aktivis FPI. Pelanggaran oleh oknum, tidak bisa di-gebyah uyah untuk menghancurkan sistem sebuah organisasi. Contoh, kasus kekerasan oleh oknum polisi di Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Ia dianggap kasus kekerasan oleh oknum polisi, sehingga tidak perlu ada tuntutan untuk membubarkan lembaga Polri. Begitu pula, kalau ada kasus kekerasan oleh sebagian warga Muhammadiyyah –misalnya-, hal itu tidak perlu dikembangkan menjadi “bola liar” untuk membubarkan istitusi Muhammadiyyah. Kasus kekerasan oleh oknum tetap dialamatkan kepada oknum, bukan kepada institusi. Termasuk, ketika Munarman dijadikan salah satu dari lima tersangka kasus di atas. Dia tetap disebut sebagai oknum, bukan sebagai lembaga FPI secara umum. Kasus kekerasan di Monas adalah individual case, bukan organization case. Kalau setiap kasus individu bisa menjadi dalih untuk membubarkan sebuah organisasi, maka sikap ingkar janji SBY yang katanya tidak akan menaikkan harga BBM sampai tahun 2009, bisa dijadikan dalih untuk membubarkan kabinetnya. & nbsp; Kelima, ketika SBY dengan lantang mengecam anarkhisme di Monas atas nama “negara hukum”, dia telah menggunakan dalil yang benar. Tetapi seharusnya dia bersikap adil, tidak berat sebelah. Bukankah penanganan kasus Ahmadiyyah selama ini sudah mengikuti prosedur hukum? Disana ada Fatwa MUI, Fatwa Rabithah Alam Islamy, rekomendasi Depertemen Agama RI, rekomendasi Bakorpakem, bahkan rekomendasi kepala-kepala daerah tertentu. Apa semua itu tidak memenuhi syarat “negara hukum”? Mengapa SKB soal Ahmadiyyah sedemikian lambatnya? Bukankah hukum berlaku bagi FPI, juga bagi Ahmadiyyah? Ketika seluruh rekomendasi tentang kesesatan Ahmadiyyah itu dikalahkan oleh pandangan seorang Adnan Buyung Nasution, selaku anggota Watimpres, apakah hal itu juga memenuhi keadilan hukum? Apakah dalam fungsi hukum nasional, posisi Watimpres bisa mengintervensi kebijakan legal negara? Mengapa SBY tidak mengecam AKKBB yang melakukan aksi terbuka, padahal kelompok Ahmadiyyah sudah disepakati sesat oleh Ummat Islam Indonesia dan oleh institusi birokrasi di bawah Kabinet SBY? Jadi kesan yang muncul, istilah “negara hukum” itu hanya dipakai untuk mendesak kelompok tertentu. Adapun untuk kelompok lain, konsep ketegasan hukum bisa ditafsirkan macam-macam. Seorang Adnan Buyung Nasution, dia bisa disebut pakar hukum ketika melecehkan ormas-ormas Islam dalam kasus Ahmadiyyah. Tetapi dia akan disebut sebagai “profesional hukum” ketika membela obligor BLBI, Syamsul Nursalim. Hukum akhirnya hanya sekedar “kuda tunggangan” belaka. Keenam, kita merasa kecewa, kesal, marah, benci, mual, emosi, mengutuk, dst. ketika melihat aktivis-aktivis FPI memukuli peserta aksi AKKBB. “Nurani kita tersentuh oleh duka lara bak teriris sembilu,” begitulah kata puitisnya. Pokoknya, top tenan dalam soal empati kekerasan ini. Tetapi pernahkan kita merasa empati dengan Ummat Islam ketika Ahmadiyyah terus-menerus menodai ajaran Islam? Pernahkah kita terketuk hati ketika ada yang mengaku Nabi setelah Rasulullah Saw., dia mendakwakan diri sebagai Al Masih, sebagai Al Mahdi, dan mengajarkan kitab At Tadzkirah sebagai kitab sucinya? Pernahkah kita marah ketika ajaran-ajaran Islam dilecehkan oleh orang-orang itu? Kalau massa AKKBB itu merasa sakit, kecewa, marah, atau sedih, apalah artinya penderitaan mereka dibandingkan penderitaan yang menimpa Rasulullah Saw. dan para Shahabat ketika mendakwahkan Islam? Dan sekarang, ajaran Nabi yang murni dan suci itu, demikian mudahnya dilecehkan oleh kaum Ahmadiy (pengikut Ahmadiyyah). Sebagai seorang Muslim, apakah kita tidak berempati kepada penderitaan Rasulullah dan Shahabat ketika mereka berjuang dan berkorban, sehingga atas hidayah Allah saat ini kita menjadi Muslim? Kemurnian ajaran Islam itulah yang sekarang dilecehkan oleh kaum Ahmadiyyah, pengikut Mirza Ghulam Ahmad laknatullah ‘alaih. Bukan berarti sikap keras atau anarkhis kepada mereka bisa dibenarkan, sebab bagaimanapun tindakan negara lebih baik, daripada tindakan rakyatnya sendiri. Tetapi janganlah karena empati kebablasan kepada kaum Ahmadiy membuat kita lupa penderitaan Rasulullah dan Shahabat ketika mulai mendakwahkan Islam di masa lalu. Secara umum, tindak kekerasan tetap salah, siapapun pelakunya. Tetapi dalam menyikapi tindak tersebut kita harus melihat secara jernih dan adil. Jangan karena sentimen, atau sudah “kadung kesal” dengan FPI, lalu kita berbuat zhalim. Bukankah Allah Ta’ala tetap memerintahkan agar kita selalu berbuat adil. “Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum, membuat kalian berbuat tidak adil. Bersikap adil-lah, sebab adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (Al Maa’idah: 8). Wallahu a’lam bisshawaab. Note: Mohon dibantu menyebarkan, dalam rangka menolong FPI menghadapi tekanan pembubaran dari berbagai pihak. Minimal, tulisan ini bisa menjadi referensi pribadi. Wahana diskusi tentang masalah terkait, silakan menulis ke: langitbiru1000@gmail.com. Syukran jazakumullah khair atas kontribusinya demi kebajikan Ummat Islam. *) Penulis buku-buku Islam, tinggal di Bandung. Karya buku, “Hidup Itu Mudah” (Khalifa, Jakarta), “21 Resiko Buruk Busana Seksi” (Pustaka Al Kautsar Jakarta), “Menepis Godaan Pornografi” (Darul Falah Jakarta), “Ummat Menggugat Gusdur” (Aliansi Pecinta Syariat Bekasi), dll.
|
|
2 Comments
|
| |
|
Words of Wisdom :
======================== "Ya 4JJ1, jangan Engkau hukum hamba karena apa yang mereka katakan tentang hamba,
berikanlah kebaikan pada hamba dari apa yang mereka sangkakan kepada hamba. Ampunilah hamba karena apa yang tidak mereka ketahui tentang diri
hamba". ========================
Anda
:: Vistitor ::
|